Paus Fransiskus dan umat Kristiani di seluruh dunia bergabung dalam doa Rosario untuk perdamaian di Basilika St. Maria Maggiore, di Roma. Paus Fransiskus meminta campur tangan Perawan Maria, Ratu Perdamaian, untuk memberikan umat manusia karunia perdamaian.

Dalam homilinya pada hari Minggu, Paus mengundang umat beriman di seluruh dunia untuk bergabung dengannya dalam doa Rosario pada hari terakhir bulan Maria pada bulan Mei ini karena perang yang terus menimpa umat manusia dengan kematian, penderitaan, dan kehancuran. 

Orang-orang yang terkena dampak atau terlantar akibat perang, para imigran, dan para pengungsi turut berpartisipasi dalam vigili doa yang berlangsung di Basilika Kepausan St. Maria Maggiore.

Mewakili semua orang yang menderita

Dalam rosario tersebut, hadir sebuah keluarga yang berasal dari Ukraina yang mewakili semua keluarga yang mengalami kekerasan dan pelecehan akibat perang, pendeta militer yang mewakili mereka yang membawa harapan dan kenyamanan bagi penduduk yang menderita, seorang relawan pria dan wanita yang mewakili mereka yang tetap melakukan pelayanan mereka atas nama orang lain bahkan dalam situasi bahaya dan kegentingan besar, sebuah keluarga dari Suriah dan Venezuela yang mewakili semua orang yang terus menderita secara tidak adil akibat konflik, beberapa pengungsi yang memberikan gambaran dan suara untuk jutaan orang yang dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka dan mendapatkan sambutan di negara – negara lain saat mereka mencoba membangun kembali kehidupan mereka.

“O Maria, Bunda Allah dan Ratu Perdamaian, selama pandemi kami berkumpul di sekitar-Mu untuk memohon campur tanganmu,” doa Paus.

Paus mengingat doa itu di mana orang – orang Kristiani meminta dukungan bagi yang sakit dan kekuatan untuk para tenaga medis, memohon belas kasihan bagi mereka yang akan meninggal, dan penghiburan bagi mereka yang menderita dalam kesunyian dan kesepian.

“Malam ini, di akhir bulan yang dipersembahkan khusus untuk-Mu, kami hadir lagi di hadapan-Mu, Ratu Damai, untuk memohon kepada-Mu: berikanlah anugerah perdamaian yang agung, akhirilah segera perang yang telah berkecamuk selama beberapa dekade di berbagai belahan dunia, dan yang kini juga telah menginvasi benua Eropa.”

Menyadari bahwa perdamaian bukanlah hasil negosiasi saja atau konsekuensi dari kesepakatan politik saja, tetapi di atas semua itu adalah karunia Paskah dari Roh Kudus, Paus mengingatkan konsekrasi bangsa-bangsa yang bertikai kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, meminta karunia besar berupa pertobatan hati.

“Kami yakin dengan senjata doa, puasa, sedekah, dan karunia rahmat-Mu, hati manusia dan rejeki seluruh dunia dapat diubahkan.”

Paus Fransiskus meminta Bunda Allah untuk memohon kepada Putranya agar “mendamaikan hati yang dipenuhi dengan kekerasan dan pembalasan, meluruskan pikiran yang dibutakan oleh keinginan untuk menjadi kaya secara instan.”

“Di seluruh bumi semoga damai-Mu berkuasa selama-lamanya.”

Dengan mempercayakan umat manusia “yang dicobai oleh perang dan konflik bersenjata” kepada Ratu Perdamaian, Paus merenungkan pembacaan liturgi hari itu yang menceritakan bagaimana Maria mengunjungi Elizabeth mengungkapkan dirinya sebagai seorang wanita misionaris yang membawa dan berbagi sukacita proklamasi: seorang wanita dermawan yang menempatkan dirinya untuk melayani mereka yang paling rapuh.

"Pada hari yang sama, kami bergabung dalam doa dengan tempat-tempat suci dan keluarga di seluruh dunia dalam doa Rosario Suci untuk perdamaian."

Di antara intensi doa yang dibacakan, intensi khusus dibuat untuk penderitaan berbagai kelompok orang yang mengalami kesedihan dalam beberapa tahun terakhir seperti korban peperangan dan bagi mereka yang membawa kenyamanan dan keyakinan kepada orang-orang yang dilanda perang.

Source: 

https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2022-05/pope-francis-rosary-peace-ukraine-wars-virgin-mary.html