Pernahkah sekali waktu kita berpikir dan kemudian mempertanyakan iman kita? Bisa juga sekedar ingin mengetahui latar belakang, alasan-alasan tertentu dari iman yang kita miliki? Atau bahkan pernah mendapatkan sebuah pertanyaan yang cukup mendasar mengenai iman kita sehingga kita cukup goyah dan mulai mempertanyakan iman yang dimiliki? Hal tersebut ternyata bukanlah barang baru, hal ini wajar dialami oleh manusia, karena manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap suatu hal. 

Ternyata rasa ingin tahu ini juga berlaku juga bagi lingkup iman yang dimiliki. Memang tidak semua orang mempertanyakan iman yang dimilikinya, tetapi mengapa harus takut untuk mencoba? Selain karena iman merupakan suatu hal yang menarik untuk didalami, iman juga memiliki peran fundamental di dalam perkembangan manusia sendiri.

Apakah kita perlu mendalami iman lebih lanjut, atau hanya boleh diterima begitu saja sebagai sebuah pondasi kehidupan? Lalu apa gunanya mendalami iman bagi kehidupan menggereja? Hal ini dapat kita dalami sekilas di dalam ulasan singkat ini.

Studi merupakan suatu bentuk kegiatan olah intelektual yang dilakukan manusia untuk memeroleh ilmu pengetahuan dan pengertian akan suatu hal. Sedangkan Teologi secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah bidang ilmu yang memelajari Tuhan dalam terang iman. Berarti studi teologi merupakan sebuah olah akal budi manusia untuk dapat memahami Tuhan dalam iman. Beriman berarti memahami apa yang diimani adalah sebuah kebenaran yang dipahami secara mendalam, baik secara spiritual, intelektual maupun dalam tindakkan.

Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik “fides et ratio” (iman dan akal budi), menegaskan dan menjabarkan bahwa iman dan akal budi yang dimiliki manusia merupakan keberadaan yang saling mendukung dan memurnikan dalam mengejar pemahaman yang lebih dalam atau dapat disebut dengan kebenaran. Demikian dengan pencarian mendalam terhadap iman yang dimiliki, merupakan sebuah langkah yang tepat untuk dapat menjalani hidup secara lebih terbuka dan bermakna.

Studi teologi diharapkan dapat membantu seseorang menemukan kebenaran iman, sehingga kehidupannya menjadi lebih bermakna dan mendalam. Orang hanya dapat menemukan kebenaran bila masuk ke dalam kebenaran, tinggal dalam kebenaran, hidup dinaungi kebijaksanaan. Dengan begitu manusia akan memahami kebebasannya dan panggilan mereka untuk mengetahui dan mencintai Allah, realisasi tertinggi dari kebenaran diri pribadi. Kebenaran adalah kesesuaian antara kenyataan dan pemahaman manusia. Yesus Kristus adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Dalam hidup Kristus ada kesesuaian antara pemahaman kita tentang realitas diri kita dengan realitas diri-Nya; terdapat juga kesesuaian antara apa yang dikatakan-Nya dan apa yang dilakukan-Nya; terdapat juga kesesuaian antara apa yang diajarakan-Nya (yang kita imani) dan realitas yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus. 

Ketika seseorang menemukan kebenaran di dalam imannya, maka kehidupannya akan berubah terutama dalam menyikapi dan menjalani kehidupannya. Penemuan tersebut akan sangat berguna bagi kehidupan menggereja karena saat makna yang ia temukan diaplikasikan dan sudah menjadi bagian kehidupannya, hal yang ia jalani adalah kesaksian hidup. Bukan lagi hanya ditaraf pengetahuan mengenai iman semata.