![sick](//images.ctfassets.net/a1uad830l19w/5UvVPdSUIsQiVkJnsLA37t/c687cd7c1fcf317dd5006af42312cf5e/663094.jpg) __Pengantar__ Setiap manusia pasti pernah mengalami suatu penderitaan dalam hidup. Bentuk penderitaan yang dialami dapat berupa kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Sering kali manusia tidak berdaya atas penderitaan, terutama bagi yang mengalami gangguan kesehatan. Kesehatan merupakan kebutuhan manusia pertama dan utama yang harus tetap dijaga, sebab segala aktivitas dapat dilakukan seseorang ketika memiliki tubuh dan jiwa yang sehat. Namun dalam keadaan berbeda, yakni jika Tuhan berkehendak lain bagi umat yang dipilih-Nya agar senantiasa dekat dengan Allah melalui sakit yang diderita, maka dalam kondisi tersebut seseorang harus ikhlas, berusaha dan berdoa untuk diberikan pemulihan bagi penderita. Tidak hanya itu, bagi teman-teman disabilitas juga merupakan orang yang dipilih Tuhan untuk selalu bersama di jalan Kristus. Sebagai umat beriman harus yakin dan percaya bahwa penderitaan yang diberikan kepada setiap manusia merupakan rahmat dan bentuk cinta yang diberikan oleh Kristus kepada murid-murid-Nya. Untuk mengurangi beban penderitaan bagi orang sakit, sebagai sesama saudara seiman patut untuk memberikan penghiburan kepadanya. Hal ini juga dilakukan oleh Gereja Katolik untuk peduli terhadap orang yang menderita sakit. Setiap tanggal 11 Februari Gereja Katolik memperingati hari orang sakit sedunia, yaitu untuk memberikan penguatan dan penghiburan bagi mereka yang sedang berjuang terhadap penyakit yang dideritanya. Dukungan yang diberikan sangat berarti bagi mereka, sekalipun dalam bentuk doa. Dapat dilihat ketika mengunjungi dan mendoakan orang sakit, maka energi dalam dirinya akan bangkit untuk sembuh, karena dia merasa bahwa banyak orang yang masih sayang kepadanya, walaupun bentuk perhatian yang diberikan itu mungkin kecil. Maka diperlukan kesabaran dan penuh harapan bagi orang yang sakit untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Saat ini dunia sedang dilanda krisis kesehatan yang diakibatkan virus Corona atau servere acute respiratory sydnrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) biasa dikenal dengan sebutan Covid-19. Jumlah yang terinfeksi Covid-19 dari hari ke hari makin mengalami peningkatan. Virus ini dapat ditularkan melalui antar manusia, sehingga keterbatasan dalam aktivitas sangat dirasakan. Apalagi bagi yang terinfeksi Covid-19, baik gejala ringan atau berat sama-sama memiliki kekhawatiran, sebab mereka secara tidak langsung akan dijauhi dari orang terdekat di lingkungannya. Kondisi inilah yang membuat orang terinfeksi Covid-19 semakin hari semakin melemah. Untuk itu diperlukan dukungan orang terdekat sebagai bentuk sukacita bagi mereka yang terjatuh sakit terutama yang terinfeksi Covid-19. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan ini tidak lain memberikan dukungan secara rohani bahwa sakit bukan menjadi penghalang bagi orang untuk bersukacita dalam namaNya. Penulis memberikan beberapa pertanyaan untuk membantu para pembaca untuk dapat mengikuti alur refleksi dari penulis, yakni sebagai berikut; apa makna teologis Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-29 bagi Gereja? Apa buah-buah religius yang dapat dihayati dalam Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-29? __Makna Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia XXIX__ Paus Fransiskus mengeluarkan pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia XXIX, yang diperingati pada tanggal 11 Februari 2021 dan bertepatan dengan peringatan Santa Perawan Maria Lourdes, Paus menyatakan bahwa di hadapan kebutuhan sesama, Yesus meminta kita untuk diam dan mendengarkan, untuk membangun relasi langsung dan personal dengan orang lain, dan untuk membiarkan penderitaan mereka menjadi milik kita saat kita berusaha melayani mereka (Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 11 Februari 2021, Disebarluaskan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia). Karena melalui perjumpaan orang yang sehat dengan orang yang sakit, memberikan sukacita dan penyembuhan tersendiri bagi yang sakit. Seperti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-murid-Nya, yakni Dia selalu melakukan perjumpaan dan datang terus-menerus kepada orang-orang sakit untuk menyembuhkan mereka. Tuhan Yesus tidak hanya menyembuhkan mereka dengan kuasa saja tetapi juga melalui perjumpaan-Nya dengan para orang sakit. Karena Dia datang untuk memberikan kabar sukacita dan supaya mereka yang sakit memiliki sukacita dalam nama-Nya. Penyakit, penderitaan maupun orang yang mengalami keduanya mewujudkan cinta kasih Kristus yang nyata ke dalam dunia. Kemenangan Yesus atas sakit, sebagaimana atas penderitaan manusiawi, tidak hanya terjadi melalui hilangnya sakit oleh penyembuhan ajaib, tetapi juga karena penderitaan sukarela dan tak bersalah dari Kristus dalam sengsaranya, memberikan setiap orang kemungkinan menyatukan dirinya dengan penderitaan Tuhan. Karena Kristus sendiri, tanpa dosa, menderita dalam segala macam kesakitan dan siksaan sengsara, dan menjadikan penderitaan semua orang sebagai penderitaannya sendiri. Pada salib Kristus tidak hanya penebusan diselesaikan melalui penderitaan, tetapi juga penderitaan manusia sendiri telah ditebus… Dalam menghasilkan penebusan melalui penderitaan, Kristus juga telah mengangkat penderitaan manusia pada tingkat penebusan. Dengan demikian setiap orang dalam penderitaannya dapat juga ambil bagian dalam penderitaan penebusan Kristus (Dokumen Gerejawi No. 61, Instruksi Mengenai Doa Penyembuhan, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi WaliGereja Indonesia, Jakarta, Januari 2001, hlm. 9-10). Gereja menerima dan menyambut orang sakit sebagai sebuah panggilan bagi mereka yang mengalaminya untuk menghidupi panggilan manusiawi dan iman Kristianinya serta untuk ikut andil dalam pertumbuhan Kerajaan Allah dalam cara yang baru dan bahkan lebih bermakna. Seperti perkataan Santo Paulus dalam Kolose 1:24 yang mana merupakan kegembiraan paskah, buah Roh Kudus dan cara yang sama banyak orang sakit menjadi pembawa sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam penderitaan (1 Tesalonika 1:6) dan menjadi saksi Kebangkitan Yesus (Bdk. Dokumen Gerejawi No. 61, Instruksi Mengenai Doa Penyembuhan, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi WaliGereja Indonesia, Jakarta, Januari 2001, hlm. 10-11). Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) telah ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 13 Mei 1992 dan diperingati setiap tahunnya sejak tanggal 11 Februari 1993. Awal mula ditetapkannya HOSS, yaitu setahun sebelum Bapa Suci didiagnosa menderita penyakit parkinson pada tahun 1991. Tujuan dengan adanya perayaan ini, yaitu mengajak bagi yang mengharapkan pemulihan untuk senantiasa berdoa dan mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Perayaan ini juga bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Lourdes. Banyak peziarah untuk datang dan berdoa, yang kemudian diberikan kesembuhan melalui doa-doa bunda Maria. Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) diperingati sebagai bentuk dukungan dan kekuatan bagi orang yang menderita suatu penyakit, bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi penderitaan yang dialaminya. Melalui perayaan ini, bagi semua, baik dalam keadaan miskin, sakit, dan tertindas untuk senantiasa menyadari bahwa kehidupan mereka tergantung oleh Tuhan, seperti sabdah Yesus Kristus “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan beban berat, Aku akan berikan kelegaan bagimu” (Mat.11:28) Setiap manusia tidak luput dari gangguan kesehatan atau penyakit yang dialami. Dalam kondisi lemah menghadapi penyakit yang diderita tentunya mereka tidak sendiri, banyak di luar sana baik tua, muda, anak-anak, perempuan maupun laki-laki juga mengharapkan pemulihan dari Tuhan. Tuhan mengajak semua datang kepadaNya “Marilah kepada-Ku” untuk selalu setia bersama Kristus dalam kondisi lemah sekalipun. Ajakan Tuhan mengajarkan kesetiakawanan untuk mengajak sesama manusia bersukacita dalam kemalangan (Pdf., Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-28 11 Februari 2020, Disebarluaskan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia). Tuhan telah memberikan penghiburan yang diberikan oleh manusia berupa hukum kasih. Kedua hukum itu mengetuk hati setiap manusia untuk saling berbagi dalam keadaan apa pun yang dihadapi. Selain itu, Tuhan telah memberikan Gerejanya sebagai tempat untuk saling berbagi kasih atas sesama. Maka dari itu yakinilah dalam kondisi tidak berdaya ini merupakan pemberian Tuhan, agar anak Allah senantiasa selalu bersyukur dan dapat memaknai bahwa hidup manusia milik Kristus. Kematian tidak dapat dihindari setiap makhluk yang hidup di bumi ini, sebagian besar seseorang yang menderita suatu penyakit dan kemudian dinyatakan meninggal, bukan berarti kematian yang dialami menjadi hal yang sia-sia melainkan sebagai kemuliaan bagi Allah. Yesus Kristus berkata “penyakit tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit anak Allah akan dimuliakan” (Yohanes 11: 4). Namun banyak yang beranggapan bahwa suatu penyakit yang diderita merupakan kutukan atau hukuman atas dosa besar yang diperbuat oleh si penderita atau orang terdekatnya. Hal demikian salah besar, Tuhan sangat menyangkal atas pernyataan ini melalui pertanyaan yang diberikan oleh muridnya mengenai orang buta sejak lahir, Tuhan Yesus menjawab “bukan dia atau orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3). Bagi orang yang sakit maupun penyandang disabilitas bukan merupakan keadaan yang disesali, percayalah Tuhan telah menetapkan pekerjaannya bagi mereka seperti apa yang dikatakan dalam firmanNya. Sebagai orang beriman akan Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, haruslah percaya karena terdapat mujizat dalam diri setiap manusia untuk keluar dari kemalangan yang dideritanya. Hukum kasih yang diajarkan oleh Tuhan kepada murid-murid-Nya sampai saat ini tetap memiliki relevansi yang nyata dengan melalui kegiatan sosial. Hendaklah sebagai saudara seiman mampu untuk menolong satu sama lain kepada orang yang dirasa lemah, terbatas, dan sakit. Sebagai umat Katolik patut bersyukur dan bangga memiliki pelayanan kesehatan, pendidikan, panti jompo, panti asuhan, dan komunitas anak jalanan yang diperhatikan oleh Gereja untuk saling berbagi kasih dalam suatu komunitas, yakni persektuan di dalam Kristus sendiri. Terutama bagi pelayanan kesehatan, seperti dokter, perawat, apoteker, analisis, bidan dan lain sebagainya, sepenuh hati untuk melayani semaksimal mungkin untuk meningkatkan taraf kesehatan di masyarakat. Bagi pelayanan kesehatan tentu hal ini tidak mudah baginya diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam mediagnosa penyakit yang diderita pasien. Dengan bantuan Allah pelayanan kesehatan selalu diberikan kemudahan dan perlindungan dalam berkarya untuk membantu keselamatan jiwa manusia. Supaya setiap orang walaupun dalam keadaan sakit tetap bersukacita dalam nama-Nya oleh karena pelayanan kesehatan yang baik. __Refleksi Atas Hari Orang Sakit Sedunia XXIX__ Hari ini kita diajak kembali untuk senantiasa mensyukuri kasih berkat yang telah diberikan oleh Yesus Kristus. Kita sebagai manusia selama ini lupa bahwa kehidupan di muka bumi merupakan milik Allah Bapa dan semua yang kita miliki hanya sebuah titipan, agar kita dapat berbagi suka cita memuji namaNya. Sejatinya manusia merupakan makhluk yang lemah, yang telah diberikan kekuatan oleh Kristus untuk senantiasa melaksanakan pekerjaan yang telah tetapkan pada masing-masing individu, sekalipun bagi orang yang sakit. Sakit bukan penghalang bagi kita untuk senantiasa berjalan dijalan Tuhan. Banyak beranggapan bahwa penyakit yang diderita merupakan akhir segalanya. Hal demikian tidak benar adanya, Tuhan memberikan sebuah penyakit yang diderita oleh manusia agar selalu mengingat Tuhan melalui doa. Mereka telah dipilih untuk tetap mensyukuri atas apa yang diberikan oleh Kristus selama hidupnya. Maka ditekankan sekali lagi bahwa penyakit bukan sebuah kutukan atau dosa besar. Oleh karena itu melalui sakit yang diderita manusia ,Tuhan selalu senantiasa memuliakannya dengan membebaskan beban yang seharusnya mereka kerjakan, sehingga jangan takut dan cemas bagi penderita sakit percayalah bahwa Tuhan kita Yesus Kristus yang memberikan rasa sakit dan Dialah juga sebagai obat penyembuh. Dalam kondisi sakit tentunya bagi penderita sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekat. Melalui peringatan Hari Orang Sakit Sedunia, kita diajak untuk juga merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita untuk melawan rasa sakit yang dideritanya. Maka dari itu kepedulian bagi penderita sakit, Gereja Katolik setiap tahunnya memperingati Hari Orang Sakit Sedunia untuk mengajak orang yang sedang berjuang melawan sakit yang dideritanya sebagai bentuk persembahan. Kita persembahan diri kita untuk Tuhan, baik dalam keadaan suka maupun duka, sebab kita hidup di dunia hanya untuk Tuhan. Bagi orang menderita sakit hendaknya selalu senantiasa bersuka cita, sebab Tuhan berserta orang yang berjuang. Perlu kita tahu bahwa sakit dan penderitaan yang kita alami bukan sebuah cobaan, melainkan rahmat bagi kita untuk selalu mengingat Tuhan dalam kondisi apa pun. Melalui sakit kita diketuk oleh Kristus agar kita tidak terlalu jauh pergi dariNya. Oleh karena itu, sepatutnya kita untuk selalu berpikir positif kepada Allah, sebab apa yang diberikan oleh Tuhan merupakan kebaikan kepada kita termasuk dalam keadaan sakit. Janganlah menyesali apalagi menyalahkan Tuhan atas keadaan ini, kuatkanlah iman kepada Yesus Kristus agar dalam sakit kita tidak terhasut oleh bisikan iblis yang menyertai kita juga dalam keadaan sakit. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan Yesus Kristus serta bunda Maria yang suci melalui doa-doa pribadi atau bersama-sama yang biasanya diintensikan khusus dalam misa bagi orang-orang yang sedang mengharapkan kesembuhan. Saya secara pribadi yakin bahwa Tuhan akan memberikan penyembuhan kepada kita. Semangatlah untuk berjuang dan berdoa penuh pengharapan kesembuhan, ingatlah Tuhan lebih dekat kepada orang yang sakit dan lemah. Bagi orang yang sedang berjuang untuk kesembuhan dibutuhkan orang terdekat agar senantiasa mereka semangat melawan rasa sakit yang dideritanya. Dukungan dan doa kita hari ini dikhususkan bagi orang yang berjuang kesembuhan melalui Hari Peringatan Orang Sakit Sedunia, walaupun pada hari-hari biasa kita juga melakukan demikian. Melalui peringatan ini kita diajak oleh Tuhan untuk senantiasa peduli kepada orang sakit dengan memberikan penghiburan suka cita dalam Tuhan Yesus Kristus. Bentuk kepedulian sangat berarti bagi orang yang berjuang kesembuhan. Sebab dalam keadaan sakit segala aktivitas tidak bisa dilakukan sendiri, oleh karena itu hendaknya kita yang memiliki tubuh yang sehat senantiasa untuk melayani sebagai bentuk rasa syukur bahwasanya kita diberikan kesehatan oleh Tuhan. Bentuk kepedulian bisa kita lakukan dengan cara, yaitu mendoakan, memberikan bantuan, menjadi pelayan Tuhan medis maupun non medis dan lain sebagainya. Melalui peringatan ini juga sebagai bentuk dukungan bagi para pelayanan Tuhan dalam bidang kesehatan, baik dokter, perawat, apoteker, bidan, analisis dan lain sebagainya yang telah mengorbankan jiwa dan raga membantu sesama dalam kemanusiaan. Di masa pandemi Covid-19 saat ini para tenaga kesehatan tak kenal lelah dalam melayani pasien yang terpapar virus Corona. Mau tidak mau sebagai rasa kemanusian, para tenaga kesehatan maupun relawan tetap memberikan pelayanan walaupun mereka mengetahui bahwa bisa saja tertular pasien Covid-19. Sehingga mereka tidak kenal takut, sebab tenaga medis dan relawan terpanggil untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi penyebaran Covid-19. Maka dari itu melalui peringatan Hari Orang Sakit Sedunia kita mendukung tenaga kesehatan dan relawan dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 dengan tetap menaati protokol kesehatan. Melalui Covid-19 Tuhan telah mempersatukan kita untuk saling peduli satu sama lain. Rasa kepedulian ini membawa perdamaian antar umat manusia. Maka dari itu dengan peringatan ini kita dapat mempersatukan doa bagi saudara-saudara yang sedang berjuang melawan dan menanggulangi penyebaran Covid-19. Sebagai umat beriman kita sepatutnya untuk berharap akan kemuliaan Tuhan melalui Covid-19. Semoga bagi orang yang berjuang melawan rasa sakit untuk senantiasa diberikan penyembuhan oleh Tuhan dan bagi para tenaga kesehatan selalu diberikan perlindungan, serta senantiasa untuk tidak kenal lelah dalam melayani, sebab Tuhan berserta kita untuk bersuka cita dalam nama-Nya. __Sumber Pustaka__ Alkitab Deuterokanonika. Dokumen Gerejawi No. 61, Instruksi Mengenai Doa Penyembuhan, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi WaliGereja Indonesia, Jakarta, Januari 2001, hlm. 9-10. __Sumber Internet__ Pdf., Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 11 Februari 2021, Disebarluaskan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia. Pdf., Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-28 11 Februari 2020, Disebarluaskan oleh Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia. Benedicta, Pesan Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2020, https://www.dokpenkwi.org/2020/02/03/pesan-paus-fransiskus-untuk-hari-orang-sakit-sedunia-2020/, diunduh pada tanggal 01 Januari 2021, pukul 10.00 WIB.