PERTEMUAN 3

APP KEUSKUPAN SURABAYA

BERSABDALAH TUHAN HAMBAMU MENDENGARKAN: LITURGI SABDA

Gagasan Pokok

  1. Allah berkarya menyelamatkan manusia melalui SabdaNya, yang memuncak pada Yesus, Kristus, Sabda yang menjadi manusia. Demikian pula Tuhan Yesus juga berkarya melalui SabdNya. 
  2. Maka dalam Ekaristi Suci selalu tersedia dua meja: meja Sabda dan meja Ekaristi. Dalam Ekaristi, dua meja ini memiliki martabat yang sama dan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. 
  3. Oleh karena itu, ketika dibacakan Bacaan dalam Ekaristi, Allah sendiri yang bersabda kepada umatNya. Maka pusat perhatian umat adalah Sabda Allah yang diperdengarkan, bukan pada teks dalam bentuk apapun. 
  4. Petugas yang menyampaikan Sabda Allah, sungguh mendapat kehormatan yang tinggi karena menjadi juru bicara Allah.
  5. Dalam liturgi sabda, Allah bersabda dan umat menanggapi dengan masmur, aku percaya dan doa umat.

Tujuan

  1. Umat memahami bahwa Ekaristi itu memiliki dua meja yang semartabat dan tidak dapat dipisahkan.
  2. Umat memiliki penghargaan yang tinggi terhadap Sabda Allah. 
  3. Umat mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika Sabda Allah diwartakan.
  4. Umat mencintai Sabda Allah dengan membaca dan merenungkan secara pribadi di luar ekaristi. 

Pengantar 

Para saudara terkasih. Terima kasih atas kehadiran para saudara dalam pertemuan Prapaskah ketiga ini. Jika pendalaman iman masa Prapaskah ini digambarkan sebagai sebuah perjalanan maka, sebelum melakukan perjalanan, kita diajak untuk memahami terlebih dahulu makna hari Minggu sebagai hari Tuhan. Itu yang kita lakukan dalam pertemuan pertama. Langkah selanjutnya, kita mulai perjalanan mendalami Ekaristi dari bagian awal, yaitu Ritus Pembuka yang bertujuan mempersatukan dan mempersiapkan seluruh umat agar dapat mendengarkan Sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. 

Para saudara terkasih. Dalam pertemuan Prapaskah ketiga ini, kita diajak untuk berjalan lebih masuk lagi, yaitu Liturgi Sabda. Dalam Liturgi Sabda ini, kita diajak untuk berdialog dengan Allah. Allah menyampaikan SabdaNya dan kita menyampaikan tanggapan atas Allah yang bersabda. Seperti halnya orang tua yang menyampaikan nasehat kepada anaknya dengan cinta, maka sikap anak adalah memperhatikan dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tentu orang tua akan sedih jika anaknya tidak memperhatikan, tidak mendengarkan, dan acuh tak acuh terhadap orangtua yang dengan cinta menyampaikan nasehatnya. Ketika orangtua meminta tanggapan kepada anaknya atas nasehat yang diberikan, dan anaknya diam seribu bahasa, tidak memberikan tanggapan, orangtua juga sedih. Kurang lebih demikianlah yang terjadi dalam Liturgi Sabda: dialog antara Allah dan kita, anak-anakNya. 

Belajar Ajaran Gereja Konstitusi Liturgi Artikel 24. 

Para saudara terkasih. Mari kita membaca dan cermati bacaan di bawah ini yang diambil dari Konstitusi Liturgi artikel 24. 

“Dalam perayaan Liturgi Kitab suci sangat penting. Sebab dari Kitab sucilah dikutip Bacaan-Bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan Liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab suci. 

Makna dan Pesan dari Konstitusi Liturgi Artikel 24.

  1. Dalam pertemuan kedua kita sudah menyegarkan kembali pemahaman tentang Ritus Pembuka yang bertujuan mempersatukan dan mempersiapkan kita semua untuk merayakan Ekaristi dengan layak. Ini berarti Ritus Pembuka menyiapkan umat untuk mendengarkan Sabda Allah dan memberikan tanggapan terhadap Allah yang bersabda. Maka dalam pertemuan ketiga ini kita akan menyegarkan kembali penghayatan iman kita akan Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi.
  2. Makna Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi adalah kehadiran Tuhan dan karya penebusanNya bagi Gereja melalui SabdaNya. Dalam Liturgi Sabda, Allah menyampaikan SabdaNya dan umat memberi tanggapan terhadap Allah yang bersabda. Sikap dasar yang hendaknya ada dalam diri kita adalah kesediaan mendengarkan sebagai hamba. Mendengarkan bukan sebatas mendengar dengan telinga tetapi terlebih dengan sepenuh hati sehingga membuahkan tanggapan terhadap Allah yang bersabda. Kita bukanlah murid-murid Kristus yang pasif dan diam saja ketika mendengarkan Allah yang bersabda. Pewartaan Sabda Allah dilakukan dalam pembacaan Kitab Suci dan Homili yang memperdalam Sabda itu. Tanggapan umat terungkap melalui Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil, Syahadat dan Doa Umat.
  3. Betapa pentingnya Sabda Allah dalam Perayaan Ekaristi. Untuk itu disediakan mimbar khusus dan terhormat bagi Sabda Allah yang disebut Ambo. Dari Ambo inilah Sabda Allah yang dikutip dari Kitab Suci diwartakan kepada kita. Dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu ada tiga Bacaan yang diwartakan: Bacaan I, Bacaan II dan Injil. Umumnya dalam Ekaristi Minggu dan hari Raya, Bacaan I dikutip dari Kitab Suci Perjanjian Lama yang mempunyai hubungan khusus dengan Injil Minggu itu. Hal ini menyatakan bahwa ada kesinambungan yang tak terputuskan antara sejarah keselamatan dari Perjanjian Lama dengan kepenuhan keselamatan dalam Yesus Kristus yang diwartakan dalam Injil. Kesinambungan karya keselamatan Allah dalam Perjanjian Lama dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, sungguh mengagumkan. Bacaan I dan juga Bacaan II diakhiri dengan ungkapan: Demikianlah Sabda Tuhan, umat menjawab: Syukur kepada Allah. Ungkapan ini merupakan pengakuan iman bahwa yang baru saja dibacakan adalah benar-benar Sabda Allah. Dan kita bersyukur karena Allah yang Mahakudus berkenan bersabda kepada kita manusia yang berdosa. Setelah Bacaan I, disusul dengan Mazmur Tanggapan. Sesuai dengan namanya, dalam Mazmur ini kita menanggapi Sabda Allah yang diwartakan kepada kita. Kita bukanlah umat yang pasif, acuh tak acuh dan diam saja ketika Allah hadir dan bersabda. Tentu isi Mazmur tanggapan memiliki hubungan dengan Sabda Allah yang diwartakan kepada kita.
  4. Selanjutnya dibacakan Bacaan II yang umumnya dipetik dari surat-surat dalam Perjanjian Baru yang disebut Epistola yang artinya surat. Bacaan II ini mewartakan iman akan Yesus Kristus dalam konteks pertumbuhan Gereja perdana. Bacaan II ini juga mengarahkan umat pada puncak Liturgi Sabda, yaitu Injil. Namun sebelum Injil diwartakan, diserukan Bait Pengantar Injil untuk mempersiapkan umat mendengarkan Tuhan Yesus sendiri yang bersabda dan kita menghormati kedatanganNya dengan berdiri.
  5. Puncak dari Liturgi Sabda adalah Bacaan Injil. Ketika Injil dibacakan, Tuhan Yesus sendiri yang hadir dan bersabda bagi GerejaNya. Ya, memang Tuhan Yesus selalu dan tetap hadir untuk terus menerus mewartakan keselamatan sampai akhir jaman. Demikian istimewanya Injil, maka Injil hanya boleh dibacakan oleh imam atau yang telah memperoleh rahmat tahbisan. Selain itu ada beberapa hal lain yang mengungkapkan keistimewaan Injil. (1) Sebelum Injil diwartakan, ada dialog antara imam dan umat. “Tuhan bersamamu”, umat menjawab: “Dan bersama Rohmu”. “Inilah Injil Suci menurut Santo. . . Umat menjawab: “Dimuliakanlah Tuhan”. (2) Pembuatan tanda salib di dahi, mulut, dan dada, maknanya: SabdaMu ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan (tanda salib di dahi); kami wartakan (tanda salib di mulut) dan kami resapkan/batinkan dalam hati (tanda salib di dada). (3) Pembaca Injil mengecup Injil setelah dibacakan sebagai tanda penghormatan terhadap Sabda Yesus. Yang dibacakan dan dikecup adalah EVANGELIARIUM atau ALKITAB, bukan teks misa, atau lembaran. (4) Jawaban umat: Terpujilah Kristus, setelah Injil dibacakan menunjuk pada pujian pada Kristus sendiri yang bersabda. Selanjutnya imam menyampaikan Homili yang merupakan pewartaan dan pendalaman misteri iman bersumber dari Kitab Suci yang diwartakan Minggu itu, terutama Injil, sesuai dengan situasi umat. 
  6. Setelah Sabda Allah diwartakan melalui Bacaan-Bacaan Kitab Suci dan Injil serta Homili, umat menanggapinya dengan pernyataan iman dalam Syahadat atau Credo. Pernyataan iman ini mengungkapkan kesetiaan untuk tetap percaya pada Allah Tritunggal yang telah menyelamatkan manusia dan menganugerahkan hidup kekal melalui GerejaNya yang kudus. Selain menanggapi dengan pernyataan iman, umat menanggapi Sabda Allah dengan doa bersama untuk kepentingan seluruh Gereja, yaitu dalam Doa Umat. Umumnya, doa umat terdiri dari empat hal: doa bagi Gereja, khususnya pemimpin Gereja, doa bagi pemimpin masyarakat dan keselamatan dunia, doa bagi mereka yang sedang menderita dan doa bagi umat setempat (paroki, stasi, lingkungan, dll). Doa Umat ini merupakan penutup dari Liturgi Sabda. Kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi.

Pemeriksaan Batin

Para saudara terkasih. Sabda Allah merupakan sumber iman kita. Oleh karena itu dalam Perayaan Ekaristi, Kitab Suci memiliki tempat yang penting. Allah sendiri yang bersabda ketika Lektor membacakan kutipan Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi. Benarkah kita mendengarkan dengan sikap hormat, Allah yang bersabda kepada kita? Ketika Sabda Allah diwartakan dalam Perayaan Ekaristi, benarkah kita mendengarkan atau malah membaca teks dalam panduan atau melalui HP? Setelah selesai mewartakan Sabda Allah, Lektor menyatakan: Demikianlah Sabda Tuhan. Apakah kita memberikan jawaban dengan sepenuh hati? Jika ANDA sedang memperoleh kepercayaan sebagai Lektor, apakah ANDA sungguh menyiapkan diri? Allah menghendaki kita menanggapi SabdaNya. Bagaimana selama ini kita menanggapi Sabda Allah melalui Mazmur? Ketika ANDA mendapat kehormatan sebagai pemazmur, apakah ANDA menyiapkan diri dengan baik? Bagaimana sikap iman kita ketika Injil diwartakan oleh imam? Apakah kita membuat tanda salib di dahi, bibir dan hati dengan sungguh-sungguh? Selama imam memberikan Homili, benarkah kita mendengarkan dengan penuh perhatian atau cenderung mengabaikan? Mengapa? Setelah Homili, imam mengajak kita untuk menyerukan pernyataan iman. Bagaimana kita menyatakannya? Ketika Doa Umat didoakan, benarkah kita juga ikut berdoa? Apa yang perlu kita perbaiki dari diri kita agar dapat mendengarkan Sabda Allah dan menanggapinya dengan lebih hormat?

Intensi Pribadi/Bersama 

Para saudara terkasih. Gereja mengajarkan supaya kita mencintai Sabda Allah yang selalu diwartakan dalam Perayaan Ekaristi. Sabda Allah itulah yang menjadi sumber iman kita. Dan marilah kita persembahkan permohonan-permohonan kita kepada Tuhan.

Doa Bapa Kami

Kita satukan seluruh proses pendalaman iman kita dan permohonan-permohonan dengan doa Tuhan: Bapa kami..

DOA PENUTUP

Ya Bapa yang Mahakasih, setiap kali kami merayakan Ekaristi, Engkau senantiasa menyampaikan SabdaMu yang menyelamatkan. Melalui SabdaMu, Engkau mendidik dan membentuk kami untuk lebih beriman kepadaMu. Bantulah kami untuk senantiasa terbuka untuk mencintai dan mendengarkan SabdaMu. Utuslah Roh KudusMu agar dapat menerangi budi dan melembutkan hati kami sehingga Sabda yang Kau taburkan menjadi benih yang tumbuh subur dan menghasilkan buah keselamatan dalam hidup kami. Dengan pengantaraan Yesus, SabdaMu yang menjadi manusia, Dialah Tuhan dan Penebus kami, kini dan sepanjang masa, Amin. 

BERKAT 

Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga Tuhan beserta kita. Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin. 

 

Sumber :

Buku Bahan Pendalaman Iman APP Tahun 2022 Keuskupan Surabaya