Gagasan Pokok

  1. Hari Minggu merupakan hari yang dikuduskan oleh Tuhan. Maka pada hari Minggu umat Allah berhenti dari pekerjaan untuk berkumpul dan beribadat kepada Allah; berkumpul untuk bersyukur dan mendengarkan Sabda Allah. Ini bersumber dari peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus yang terjadi pada hari Minggu. 
  2. Maka sekalipun tidak ada Perayaan Ekaristi Minggu atau berhalangan mengikuti Ekaristi Minggu, kita tetap perlu berkumpul bersama, entah itu dalam stasi atau keluarga atau kelompok tertentu untuk bersyukur dan mendengarkan sabda Allah dalam ibadat.
  3. Hari Minggu adalah hari pertemuan kita sebagai persekutuan dalam keluarga Allah. 

Tujuan

  1. Menyadarkan umat akan pentingnya hari Minggu sebagai hari pertemuan keluarga Allah untuk bersyukur dan mendengarkan Sabda Allah
  2. Menegaskan kembali kebiasaan berkumpul untuk beribadat bersama pada hari Minggu.
  3. Menggerakkan umat untuk menguduskan hari Minggu. 

Pengantar 

Para saudara terkasih. Dalam masa Prapaskah ini, kembali kita berkumpul bersama sebagai persekutuan murid-murid Kristus untuk melakukan pendalaman iman sebagai usaha pertobatan. Tema pendalaman iman Prapaskah 2022 ini adalah DIPERSATUKAN KRISTUS DALAM PERSEKUTUAN YANG DIHIDUPI OLEH EKARISTI. Tema ini merupakan kelanjutan tak terpisahkan dari tema tahun 2021, yaitu Mengenal Yesus, Guru dan Tuhan. Dalam tema tersebut, kita diajak untuk merenungkan dan menyegarkan kembali pengenalan kita pada Yesus, Guru dan Tuhan. Selanjutnya, di tahun 2022 ini, sebagai seorang murid, kita diajak untuk merenungkan dan menyegarkan kembali kesatuan kita dengan Yesus, Guru dan Tuhan.

Para saudara terkasih. Kesatuan kita sebagai murid dengan Yesus, Guru dan Tuhan secara nyata terjadi ketika kita merayakan Ekaristi. Maka fokus pendalaman iman selama tahun 2022 adalah Persatuan dengan Yesus, Guru dan Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Apalagi selama masa pandemi, kita hanya sebatas merayakan Ekaristi secara virtual. Hal ini sadar atau tidak, langsung atau tidak, melemahkan semangat iman kita dalam merayakan Ekaristi yang merupakan puncak dan sumber hidup Gereja. Maka selama masa Prapaskah Tahun 2022 ini, kita menyegarkan kembali pemahaman kita tentang Ekaristi dalam 6 kali pertemuan.

Para saudara terkasih. Sebelum mendalami bagian per bagian Ekaristi yang kita rayakan setiap hari Minggu, terlebih dahulu kita mendalami kembali makna hari Minggu bagi iman kita. Maka dalam pertemuan Prapaska yang pertama ini, kita menyegarkan kembali penghayatan iman kita tentang Hari Minggu sebagai Hari Tuhan. Kitab Suci sebagai sumber iman kita mewartakan bahwa Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu. Oleh karena itu setiap hari Minggu murid-murid Tuhan Yesus berkumpul untuk merayakan kebangkitan Tuhan dengan beribadat dan merayakan Ekaristi. Tentu sebagian dari kita benar-benar mengimani hari Minggu sebagai hari Tuhan, maka mereka menguduskan hari Minggu dengan ibadat Sabda atau merayakan Ekaristi. Namun ada juga yang mengurbankan hari Minggu untuk kepentingan lain dengan berbagai alasan. Bagi mereka ini, rasanya masih kurang waktu untuk diri sendiri selama 6 hari sehingga 1-2 jam menguduskan hari Tuhan pada hari Minggu pun tidak sempat. 

Belajar Ajaran Gereja dari Konstitusi Liturgi Artikel 106

Para saudara terkasih. Mari kita membaca dan cermati bacaan di bawah ini yang diambil dari Konstitusi Liturgi artikel 106. 

“Berdasarkan Tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari Kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paskah sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau hari Minggu. Pada hari itu Umat beriman wajib berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah dan ikut-serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan Sengsara, Kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat Kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati (1Ptr. 1:3). Demikianlah hari Minggu itu pangkal segala hari pesta. Hari itu hendaknya dianjurkan dan ditandaskan bagi kesalehan kaum beriman, sehingga juga menjadi hari kegembiraan dan bebas dari kerja. Kecuali bila memang sungguh sangat penting, perayaan-perayaan lain jangan diutamakan terhadap Minggu, sebab perayaan Minggu memang merupakan dasar dan inti segenap tahun Liturgi.”

Makna dan Pesan dari Konstitusi Liturgi Artikel 106

  1. Selama masa pandemi, kehidupan iman kita mengalami masa yang tidak mudah. Perayaan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak iman Gereja hanya bisa kita ikuti sebatas melalui jaringan internet. Meski hanya sebatas melalui jaringan internet, banyak umat Katolik mengikutinya dengan penuh iman. Namun tidak jarang ada juga yang mengikuti dengan asal-asalan, bahkan memutar rekaman perayaan Ekaristi saja. Karena itu, sebagian umat sudah meredup cintanya terhadap Ekaristi. Selaras dengan arah dasar Keuskupan Surabaya dan sekaligus menyegarkan kembali penghayatan Ekaristi, maka tema pendalaman iman Prapaskah Tahun 2022 adalah Dipersatukan Kristus Dalam Persekutuan yang Dihidupi oleh Ekaristi, yang akan kita dalami dalam 6 kali pertemuan. 
  2. Dalam pertemuan yang pertama ini kita diajak untuk mendalami kembali Hari Minggu sebagai Hari Tuhan. Konstitusi Liturgi yang kita baca tadi mengajarkan bahwa hari Minggu disebut hari Tuhan karena pada hari itu Gereja merayakan misteri Paskah kebangkitan Tuhan. Oleh karena itu Gereja mengajak seluruh umatnya untuk menguduskan hari Minggu dengan berkumpul mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Jelas dan tegas yang disampaikan Gereja bagi kita, bahwa umat Katolik wajib berkumpul pada hari Minggu. Berkumpul dengan siapa? Tentu dengan sesama umat seiman. Berkumpul untuk apa? Untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam Perayaan Ekaristi.  
  3. Karena jumlah imam belum mencukupi, maka masih ada umat Katolik yang tinggal di stasi-stasi yang jauh dari pusat paroki, tidak dapat merayakan Ekaristi setiap Minggunya. Ada yang merayakan Ekaristi dua kali sebulan, ada juga yang sekali sebulan. Meski demikian, setiap Minggu umat di stasi-stasi ini tetap setia untuk berkumpul mendengarkan Sabda Allah dalam ibadat Sabda yang dipimpin oleh para pemuka umat di stasi itu. Kalaupun kita tidak mungkin berkumpul bersama umat lainnya karena jarak tinggal kita dengan umat lainnya sangat jauh, maka kita dapat berkumpul bersama keluarga untuk ibadat sabda di rumah. Ayah atau ibu dapat memimpin ibadat sabda dalam keluarga.
  4. Karena ada pembatasan untuk berkumpul banyak orang dalam masa pandemi, maka tidak mungkin kita merayakan Ekaristi di Gereja. Berkat kemajuan tehnologi komunikasi dan informasi, kita dapat mengikuti Ekaristi hari Minggu, bahkan setiap hari secara virtual dari rumah masing-masing. Dalam masa pandemi, melalui jaringan internet Gereja tetap hadir untuk memelihara kehidupan rohani umatnya.Dengan berkumpul mengikuti Ekaristi secara virtual bersama keluarga di rumah masingmasing, kita melaksanakan kewajiban untuk berkumpul pada hari Minggu. Ajaran Gereja dalam Konsitusi Liturgi yang kita dengarkan tadi menegaskan pentingnya berkumpul pada hari Minggu, hari Tuhan. Dengan berkumpul pada hari Minggu bersama keluarga maupun umat lainnya, baik dengan beribadat Sabda maupun merayakan Ekaristi secara langsung atau mengikuti Ekaristi melalui jaringan internet, kita menguduskan hari Minggu sebagai hari Tuhan.  
  5. Konstitusi Liturgi yang kita baca tadi juga menegaskan bahwa hari Minggu adalah hari kegembiraan dan bebas dari kerja. Setelah setiap hari kita bekerja untuk mengusahakan kesejahteraan hidup, maka pada hari Minggu merupakan hari kegembiraan bebas dari kerja. Pada hari Minggu itu kita diajak untuk menyatukan diri satu dengan yang lain dan memperoleh kekuatan rohani dengan mendengarkan Sabda Allah dan merayakan Ekaristi. Hari Minggu merupakan hari penyegaran hidup rohani kita. Dengan kata lain, hari Minggu merupakan hari bebas dari kerja agar kita dapat bersyukur atas penyertaan Allah pada setiap hari kerja. Pada hari Minggu, kita berhenti dari kerja untuk bersatu dengan Tuhan Yesus dan mendengarkan SabdaNya serta menerima TubuhNya sebagai makanan kehidupan kekal. Selain mendengarkan SabdaNya dan merayakan Ekaristi, kita juga dapat menguduskan hari Tuhan dengan melakukan perbuatan belaskasih, misalnya mengunjungi orang sakit, mengunjungi para lansia yang tinggal sendirian, jika perlu merapikan dan membersihkan tempat tinggal mereka, mengajak seluruh anggota keluarga merapikan dan membersihkan rumah sendiri, dll.
  6. Betapa pentingnya hari Minggu bagi iman kita. Sebagai muridmurid Kristus kita mendapat kekuatan dari Allah untuk berjuang dalam hidup setiap hari dengan bekerja. Dan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari, kita bawa kepada Allah untuk dikuduskan dan diberkati pada hari Minggu. Berkat Allah selalu menyertai kita.

Pemeriksaan Batin

Para saudara terkasih. Dari ajaran Gereja melalui Konstitusi Liturgi kita tahu betapa pentingnya hari Minggu bagi iman kita. Bagaimana selama ini kita menguduskan hari Minggu? Apa yang kita lakukan untuk menguduskan hari Minggu? Apa saja yang selama ini menghambat kita untuk menguduskan hari Minggu? Bagaimana selama ini sikap kita ketika mengikuti Ekaristi secara virtual? Bagaimana cara kita berpakaian dalam mengikuti Ekaristi? Bagaimana tata gerak yang kita lakukan? Sikap dan tindakan apa yang akan kita lakukan untuk menghormati hari Minggu sebagai hari Tuhan di hari mendatang? 

Intensi Pribadi/Bersama

Para saudara terkasih. Setelah mendengarkan Ajaran Gereja tentang hari Minggu sebagai hari Tuhan, marilah kita persembahkan permohonan-permohonan kita.

Doa Bapa Kami

Kita satukan seluruh proses pendalaman iman kita dan permohonan-permohonan dengan doa Tuhan: Bapa kami..

Doa Penutup

Bapa yang Mahakasih, kami sudah menyelesaikan pertemuan Prapaskah yang pertama. Dalam pertemuan pertama ini, GerejaMu mengajarkan bahwa kami wajib berkumpul bersama untuk bersyukur dan mendengarkan Sabda Allah serta merayakan Ekaristi Suci. Bantulah kami untuk setia merayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Berilah kami kekuatan ilahiMu sehingga setiap hari Minggu kami dapat mempersembahkan waktu dan hati kami untuk bersyukur bersama keluarga dan umat lainnya atas rahmat Mu yang kami terima setiap hari. Demi kemuliaan namaMu, kini dan sepanjang masa, Amin.

BERKAT 

Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga Tuhan beserta kita. Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.

Sumber:

Buku Bahan Pendalaman Iman APP Tahun 2022 Keuskupan Surabaya