“OASE BAGI YANG KEHAUSAN PENGETAHUAN IMAN KEUSKUPAN SURABAYA”

Oleh 

RD. Agustinus Tri Budi Utama, S.S., M.Hum

Pembukaan

Rabu, 9 Februari 2022, Pusat Studi Teologi Awam Centrum Ivan Merz Keuskupan Surabaya membuka kelas perdananya di tahun 2022. Kelas perdana tersebut digelar sebagai awal pembukaan kelas kursus teologi dari  Pusat Studi Teologi Awam Centrum Ivan Merz Keuskupan Surabaya. Akan ada 3 kelas yang dibuka, yakni kelas Eklesiologi, Kitab Suci 2, dan Pastoral Katekese. Kelas perdana tersebut akan dibawakan oleh narasumber RD. Agustinus Tri Budi Utomo, S.S., M.Hum dengan tema “OASE BAGI YANG KEHAUSAN PENGETAHUAN IMAN KEUSKUPAN SURABAYA”. Acara dibuka oleh moderator Galan Suswardana, S.S., M.Fil dengan doa oleh salah seorang peserta. Acara kelas perdana pada hari ini bekerjasama dengan komunitas pastoral difabel untuk membantu peserta difabel yang ikut dalam kelas perdana. 

Inti Acara

Sebelum memulai membahas topik atau tema kelas perdana secara mendalam, RD. Agustinus Tri Budi Utomor4, S.S., M.Hum, mengajak sejenak merefleksikan perjalanan kehidupan yang sudah dilalui dan harapan-harapan apa yang diinginkan kedepannya. Narasumber melanjutkannya dengan mengajak peserta melihat situasi konkret saat ini terutama situasi pandemi yang tak kunjung selesai dan sudah memakan banyak korban dan mengakibatkan dampak yang luar biasa bagi hidup manusia. Situasi sulit tersebut tak jarang membuat manusia seolah berjalan di padang gurun yang tidak tahu di mana ujungnya dan seketika itu manusia akan merasa sangat bahagia jika menemukan suatu tempat yang bisa dijadikan istirahat sejenak dan bisa mengisi tenaganya kembali, dan tempat itulah yang dimaksud sebagai oase. 

Kehadiran Centrum Ivan Merz di Keuskupan Surabaya, hendaknya menjadi oase bagi umat awam yang merindukan Allah lewat pengetahuan yang nantinya dapat memberikan kesegaran, semangat, dan harapan baru bagi umat. Singkat kata pengertian oase adalah suatu daerah subur terpencil yang berada di tengah gurun, umumnya mengelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya. Lokasi oase sangatlah penting dalam rute perdagangan atau transportasi di daerah gurun.

Lantas, apa kaitannya dengan kita umat beriman? Orang beriman disebut juga homo viator, yang artinya manusia pada dasarnya adalah peziarah, pejalan, penyusur waktu, pencari makna, petualang, penjelajah, pengusaha, pembangun harapan, pelintas batas, pengungsi, perantau. Manusia memiliki dimensi waktu, artinya dari masa lalu menuju masa depan. Manusia memiliki dimensi ruang, artinya dari sini ke sana, ke seberang, ke tanah terjanji. Manusia juga memiliki dimensi kualitas, artinya fakta menuju cita-cita, kebutuhan menuju pemenuhan, belum menuju sudah, gelap menuju terang, keputusasaan menuju harapan, kemungkinan menuju kenyataan, sakit menuju sembuh, dari murid menjadi pewarta, dst. Dalam Kitab Suci juga diceritakan tentang kisah perjalanan bangsa Israel, Abraham, Yakub, Musa, keluarga Nazaret, para rasul. Maka dari itu kita sebagai kumpulan umat beriman merupakan Gereja berziarah. 

Thomas Aquinas dalam pemikirannya, mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki rasa kekaguman/heran. Kekaguman/heran merupakan kerinduan akan pengetahuan. Pada kedalaman hasrat manusiawi adalah kerinduan transendental (mencari wajah Allah), keterarahan pada yang ilahi. 

 Selanjutnya narasumber membagikan gambaran trend saat ini yang sedang terjadi. Beliau mengatakan bahwa orang Katolik sekarang tidak sekedar menjadi orang Katolik “biasa”. Umat ingin lebih memperdalam imannya sehingga bisa mempertanggungjawabkannya karena semakin banyak ajaran yang salah dan sesat di masyarakat. Saat ini juga muncul banyak “sosialita kristiani”. Umat sekarang juga semakin banyak ingin mempelajari ilmu teologi karena ingin mempertahankan imannya karena berhadapan dengan pluralitas ajaran keagamaan. 

Karl Rahner seorang teolog mengatakan bahwa Manusia diciptakan Allah sedemikian rupa sehingga manusia bisa menerima komunikasi diri Allah tersebut. Tujuan utama Allah menciptakan manusia ialah untuk membagikan rahmat, yang tidak lain adalah komunikasi diri-Nya. Rahner menegaskan; “Allah mengkomunikasikan diri-Nya untuk membagikan kasih yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri”. Komunikasi diri Allah, dialami secara unthematic sebagai kesadaran akan ada yang tak terbatas, yang kepadanya kita mengalami semua pengetahuan kategoris yang terbatas. Allah bukanlah salah satu objek dari objek-objek lain pengetahuan kita, melainkan horizon tak terbatas yang melaluinya kita mengalami segala realitas yang lain. Dalam karyanya Hearer of the Word, Rahner fokus pada manusia yang secara konstitutif dipandangnya sebagai sebuah keterbukaan terhadap kemungkinan untuk mendengarkan komunikasi diri Allah. Adanya simbol, budaya, mitologi dan aneka agama bahkan ateisme pun merupakan indikator akan kerinduan atas horizon transendental ini. St. Agustinus memberikan penegasan bahwa Tuhan, bagi Agustinus, adalah horizon peziarahan manusia yang melambaikan daya tarik yang membahagiakan sekaligus menggelisahkan. 

Manusia di dunia tidak lepas dari padang gurun kehidupan. Yang dimaksud dengan padang gurun kehidupan secara teologis adalah ruang pengembaraan, perjuangan (pergulatan) panjang dan penuh resiko, ruang pembersihan dari dosa; pemurnian, mengandalkan Allah, mengandalkan Allah, bukan hanya hidup dari roti. 

Selanjutnya narasumber memberikan pemahaman lebih dalam mengenai makna padang gurun. Padang gurun yang dihadapi manusia saat ini, hendaknya dipandang sebagai layar teofani ilahi, artinya menjadi sekolah iman seperti kisah Musa dan perjalanan umat Israel selama 40 tahun. Padang gurun adalah hamparan kering dan tandus sebagai tubir/ batas kebuntuan-upaya manusiawi untuk melompat bersama iman hingga mengandalkan Allah. "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” Keluaran 13:21-22. 

Umat dalam peziarahan di padang gurunnya merupakan suatu tantangan yang tidak mudah, artinya medan hidup umat tidak selalu indah dan lancar, kehidupan keluarga tidak selalu di taman eden. Seringkali merupakan padang gurun yang gersang dan penuh pencobaan. Padang gurun dalam era modern dapat ditemukan dalam beberapa bentuk yang mungkin kita alami saat ini atau sudah kita alami yakni kering , gersang, dan hampa bahkan ketika berada di tengah riuhnya pasar, badai informasi digital dan rutinitas kerja. Sering merasa kehilangan kompas arah jalan – kebenaran dan hidup. Namun kita sebagai umat beriman hendaknya menyadari akan panggilannya yakni dipanggil pada kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih (LG 40). 

Pada tahun 2018, Keuskupan mengadakan survey untuk bahan materi musyawarah pastoral Keuskupan Surabaya. Hasil dari survey tersebut bisa disimpulkan bahwa umat rindu oase. Hasil ini diperoleh dari beberapa data yang mengatakan bahwa Kuesioner visitasi ketua lingkungan (1.416 kaling), suara cukup dominan yang mengungkapkan minimnya pengajaran pengetahuan iman bagi umat. Maka Prioritas pastoral 2021-2022 adalah tahap kemuridan, yang artinya tahun mengenal Yesus sebagai Guru dan Tuhan dan Tahun Bersatu dengan Yesus.

Demi menjawab kebutuhan umat yang akan rindu dengan imannya, Keuskupan Surabaya berupaya mengembangkan layanan pengajaran iman di Keuskupan Surabaya. Ada empat kelompok yang menjadi pusat perhatian yakni berdasarkan teritorial, siswa/mahasiswa, calon imam, dan kategorial. Pusat Studi Teologi Awam Centrum Ivan Merz Keuskupan Surabaya merupakan salah bentuk upaya mewadahi kebutuhan umat di langsung di bawah naungan IMAVI (Institusi Teologi Yohanes Maria Vianney) Keuskupan Surabaya. 

Pusat Studi Teologi Awam Centrum Ivan Merz Keuskupan Surabaya berdiri sebagai lembaga tentunya tidak dengan begitu saja, namun banyak menemui tantangan dan tantangan tersebut semakin hari, hendaknya dilihat sebagai proses untuk memperbaiki diri. Saat ini tantangan Pusat Studi Teologi Awam Centrum Ivan Merz Keuskupan Surabaya dalam mewujudkan diri sebagai oase bagi umat adalah Mengenali kondisi dan kebutuhan umat, “marketing mix” : positioning/ segmentasi, pricing, packaging dan promoting, mempopulerkan/ kontekstualisasi kekayaan kebenaran ajaran iman, rekrutmen pengajar, kemudahan akses, jejaring kemitraan dan IT, serta formatio alumni (after sales services). 

Setelah narasumber memberikan penjelasan materi, disambung dengan beberapa pertanyaan dari peserta untuk memperdalam materi yang telah disampaikan. Banyak pertanyaan yang diajukan namun karena waktu yang terbatas maka tidak semua pertanyaan dijawab dan panitia menampung pertanyaan tersebut. Selanjutnya narasumber memberikan penegasan bagi umat untuk senantiasa tidak lelah mencari kebenaran-kebenaran iman dan semakin memperdalam iman lewat ilmu pengetahuan teologi yang benar, sehingga umat senantiasa dikuatkan dan semakin rendah hati dalam mengaktualisasikan imannya di tengah masyarakat agar menjadi saksi-saksi kehidupan dan nabi yang senantiasa menyuarakan kebenaran. 

Penutup

Setelah prenstasi dan diskusi, tibalah pada akhir acara. Acara ditutup dengan pengumuman dan doa penutup oleh salah satu perseta dan berkat dari RD. Agustinus Tri Budi Utomo, S.S., M.Hum.