Fransiskus Gilang Agcira Pradana Mahasiswa Institutum Theologicum Ioannis Mariae Vianney Surabaya [email protected] ![MISTERI MESIAS DALAM WAFAT DAN KEBANGKITAN YESUS ](//images.ctfassets.net/a1uad830l19w/6FWaVmRouKUjLTlydMY76u/15931af2c83d4053a6fa054e6f8a8ddf/download.jfif) Abstraksi Iman kristiani selalu berpangkal pada pewahyuan yang disampaikan Allah kepada manusia. Dalam pewahyuan tersebut, Allah tidak hanya memperkenalkan diri-Nya saja, melainkan juga ingin menyingkapkan rencana keselamatan-Nya kepada manusia. Puncak pewahyuan tersebut terpenuhi dalam diri Yesus Kristus yang mengalami peristiwa hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Peristiwa dan pengalaman hidup Yesus tersebut tertulis dalam keempat Injil, yakni Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Injil Markus merupakan Injil yang terpendek dari ketiga Injil lainnya. Secara garis besar, Injil Markus ingin menyingkap kebenaran misteri Mesias yang ada dalam diri Yesus melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Yesus sebagai Mesias dimaknai sebagai pengorbanan Yesus untuk menyelamatkan orang benar dengan jalan penderitaan. Demikian juga dengan misteri kebangkitan-Nya yang harus diimani sebagai jalan Yesus untuk memenuhi panggilan Allah, kita pun sebagai orang yang beriman diajak untuk memenuhi panggilan Allah dengan mengikuti Kristus yang sudah mendahului kita. Kata kunci: Allah, Yesus, wafat, kebangkitan, Markus. PENDAHULUAN Iman kristiani selalu berpangkal pada pewahyuan Allah, yakni Wahyu yang menjadi bentuk pernyataan diri Allah kepada manusia; di mana Allah ingin menyapa, berbaur, dan mengundang setiap insan manusia untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Diri-Nya (DV 2). Dalam pewahyuan tersebut, Allah tidak hanya memperkenalkan diri saja, melainkan juga ingin menyingkapkan rencana keselamatan-Nya kepada manusia. Pewahyuan ini tentu mempunyai sejarah yang cukup panjang, di mana dalam Perjanjian Lama pewahyuan dimulai dari perjanjian Allah kepada Abraham, hingga pada akhirnya pewahyuan tersebut terpenuhi dalam diri Putra-Nya yakni Yesus Kristus. Iman kristiani menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak hanya menyampaikan wahyu Allah, tetapi juga mewujudkan wahyu itu dalam diri-Nya, dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Pengalaman hidup, wafat dan kebangkitan Yesus ini telah tertulis dalam keempat Injil. Dalam Injil Markus yang akan penulis dalam ini merupakan Injil terpendek dari ketiga Injil lainnya. Dalam Injil ini pula, Markus menceritakan kisah hidup Yesus yang diawali dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, berbeda dengan Injil Lukas dan Matius yang mengawali kisah hidup Yesus dengan menceritakan kelahiran-Nya. Kemudian bagaimana Injil Markus ini menceritakan peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus? Dalam artikel ini penulis akan menjabarkan kisah sekaligus makna wafat dan kebangkitan Yesus dalam Injil tersebut. KARYA KESELAMATAN ALLAH (WAFAT KRISTUS) Pewahyuan Allah terletak dalam karya atau rencana keselamatan-Nya, yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus merupakan bentuk terlaksananya karya keselamatan Allah. Peristiwa wafat merupakan bentuk penyerahan diri Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Dengan demikian, Dia bersedia menyerahkan diri demi melepaskan manusia dari dosa-dosa. Yesus mengalami nasib yang sama dengan manusia dalam kematian-Nya, begitu pula manusia, ia akan bersama dengan Yesus dalam kebangkitan. Sebagai orang beriman, kita hidup dan bersatu dengan Kristus, di mana bersatu dengan Kristus berarti kita senasib dengan Dia. Dengan demikian, kebangkitan Yesus juga akan menjadi kebangkitan kita, apabila kita bersatu dengan-Nya. Dalam Injil Markus, kisah wafat dan kebangkitan Yesus ini ditandai dengan pengungkapan tentang rahasia Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah. Yesus seringkali disebut sebagai Mesias oleh para murid-Nya dan juga oleh masyarakat Yahudi. Pernyataan bahwa Yesus adalah Mesias menjadi harapan bagi mereka yang mendambakan keselamatan dalam hidup mereka (Martin Harun, 2015:254). Injil Markus juga menceritakan bagaimana para murid yang hidupnya selalu dekat dengan Yesus, masih belum mampu memahami rahasia Mesias dalam diri Yesus. Gelar Yesus sebagai Mesias ini masih menjadi misteri hingga wafat dan kebangkitan-Nya. Melalui peristiwa wafat-Nya Yesus, kita baru terpahami bahwa Yesus bukanlah Mesias seperti yang diharapkan dan dipahami oleh para murid-Nya dan masyarakat Yahudi pada umumnya, yakni sebagai Raja atau sesorang yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan dan melindungi dan membebaskan bangsa Israel dari penindasan atau penjajahan bangsa Roma. Ketika Yesus disalib, Dia mendapat banyak olokan dari para serdadu, namun tanpa disadari olokan dari para salah satu serdadu tersebut telah menunjukkan jati diri Mesias yang sebenarnya dalam diri Yesus, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamarkan!” (Mrk. 15:31b). Melalui pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa gelar Yesus sebagai Mesias bukan semata-mata Dia dapat menyelamatkan banyak orang dengan kuasa-Nya. Keselamatan bagi banyak orang harus dijalani Yesus melalui jalan penderitaan, yakni dengan wafat disalib. Dalam hal ini, Mesias yang dimaksud adalah bahwa Yesus telah mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang benar. Dengan mengambil bagian dalam penderitaan tersebut, Yesus telah menyelamatkan semua bangsa dari dosa-dosa dan membuka jalan bagi mereka untuk menuju Allah. KARYA KESELAMATAN ALLAH (KEBANGKITAN YESUS) Kisah keselamatan ini tidak hanya berhenti sampai pada peristiwa wafat-Nya Yesus. Injil Markus melanjutkan kisah tersebut dengan peristiwa kebangkitan Yesus yang diawali dengan kunjugan para perempuan ke makam Yesus. Merekalah yang menjadi saksi mata ketika melihat makam Yesus pada saat itu telah kosong. Seorang pemuda berjubah putih di dalam makam Yesus telah memberikan kabar baik mengenai hal tersebut, ia menyatakan bahwa Yesus sudah bangkit dan mendahului mereka pergi ke Galilea (Mrk. 14:28). Kabar baik ini belum dapat dipahami oleh para perempuan tersebut, mereka justru ketakutan akan berita tersebut. Mereka yang seharusnya memberitakan kabar baik kepada para murid justru tidak dilaksanakan karena ia takut akan kabar yang ia dapat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mereka seolah-olah tidak menerima kenyataan bahwa Yesus telah bangkit, hal ini dikarenakan perhatian mereka sendiri yang kuat akan kehidupan dan kematian Yesus yang disalib (Eko Riyadi, 2011:245). Peristiwa di atas menjadi tanda bahwa sisi manusiawi menjadi penghalang bagi kita dalam mengakui Yesus Kristus yang telah bangkit. Kita selalu menginginkan peristiwa-peristiwa indrawi atau fisik untuk memberi keyakinan kepada kita. Sebagai seorang kristiani, kita diajak oleh Markus untuk tidak mudah terpesona dengan ‘pengalaman indrawi atau fisik’ dalam kehidupan kita. Peristiwa kebangkitan Yesus harus kita imani sebagai bagian dari sejarah keselamatan Allah tanpa harus mengedepankan adanya ‘tanda fisik atau indrawi manusia’. Hal tersebut senada dengan Injil Markus yang ditutup dengan ‘open ended’, maksud dari Penginjil tersebut adalah mengajak para pembaca untuk menghayati serta merefleksikan sendiri ajakan Yesus melalui misteri kebangkitan-Nya dalam kehidupan para pembaca (Martin Harun, 2015: 260). Markus mengajak kita untuk mengimani peristiwa kebangkitan Yesus ini dengan meneruskan pesan pemuda itu, bahwa Yesus telah mendahului kita dan kita sebagai orang beriman diharapkan mau mengikuti dan meneladan hidup Kristus sebagai Mesias yang sejati. PENUTUP Dalam Injil Markus, pengenalan Yesus sebagai Mesias membuka pemahaman kita bahwa Yesus bukanlah Mesias seperti yang diangan-angan atau ditunggu-tunggu atau pemahaman oleh para murid dan orang-orang Yahudi pada umumnya. Para murid masih belum memahami bagaimana Yesus sebagai Mesias yang mengalami penderitaan terlebih dahulu hingga menuju maut sebelum menyelamatkan banyak orang. Keselamatan harus diselaraskan dengan karya Penebusan Allah bagi umat-Nya, yakni dengan mati di kayu salib untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Kita sebagai umat beriman diajak untuk merefleksikan misteri keselamatan tersebut sebagai buah penebusan atas dosa-dosa kita. Kita hendaknya tidak mengenal Yesus menurut pandangan dan kemauan kita masing-masing seperti yang dilakukan oleh para murid. Identitas Yesus sebagai Mesias justru tampak atau terlihat dari tindakan-Nya yang rela menderita, mati dan bangkit. Tidak ada kebangkitan tanpa melalui penderitaan dan kematian. Dan melalui peristiwa tersebut, kita diperlihatkan akan kuasa dan cinta Allah yang begitu Agung yang menyelamatkan manusia dari penderitaan kekal akibat dosa-dosa yang dilakukan. Peristiwa penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, menghantar kita pada suatu pemahaman baru tentang Mesias yang selama ini ditunggu-tunggu dan diharapkan bangsa Israel atau orang Yahudi. Mesias bukanlah raja yang memiliki kuasa untuk membebaskan orang Yahudi dari perbudakan, raja yang tidak akan mati secara hina di kayu salib, namun Mesias adalah seorang yang membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menghantar kembali kepada Allah Bapa dengan cara menanggung penderitaan yang sebenarnya tidak Dia tanggung sampai wafat dan bangkit. Singkat kata pewahyuan akan karya keselamatan Allah terjadi dalam peristiwa atau tindakan Yesus yang menderita, wafat, dan bangkit. Sumber Pustaka : Alkitab Deuterokanonika Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik (buku informasi dan referensi), Yogyakarta: Kanisius, 1996. Riyadi Pr., Eko, Markus (Engkau adalah Mesias), Yogyakarta: Kanisius, 2011. Harun, OFM., Martin, Markus (Injil yang belum selesai), Yogyakarta: Kanisius, 2015.