Menjelang persiapan liturgi Paskah, dalam tradisi Katolik, umat menjalani masa persiapan tersebut dengan melaksanakan pantang dan puasa sebagai bentuk laku tobat untuk mempersiapkan diri, bangkit bersama Kristus. Gereja Katolik mewajibkan setiap umat yang genap berusia 14 tahun untuk berpantang dan setiap umat yang sudah berusia 18 hingga 60 tahun wajib berpantang dan puasa. Puasa wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi bisa dikatakan bahwa kewajiban puasa bagi umat Katolik secara penuh diwajibkan hanya dua hari saja, yakni pada hari yang telah disebutkan tadi. Sedangkan untuk pantang dilakukan pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Singkat kata, pantang dilakukan hanya 7 kali selama masa Prapaskah berlangsung (Bdk. KHK. Kan 1251).

Puasa berarti makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Skema puasa orang Katolik bila dalam keadaan makan normal (3 kali dalam sehari), dapat mengikuti salah satu usulan berikut:

  1. Kenyang, tak kenyang, tak kenyang,
  2. Tak kenyang, kenyang, tak kenyang,
  3. Tak kenyang, tak kenyang, kenyang.

Jadi intinya adalah di dalam satu hari, makan kenyang hanya diperbolehkan hanya sekali. Waktu kenyang ini pun dapat dipilih sewaktu makan pagi (sarapan), makan siang atau pun makan malam. Bila dirasa perlu, umat Katolik dapat melaksankan puasa dengan makan hanya satu kali saja dalam hari tersebut. Pantang secara sederhana berarti menghindari hal-hal yang disukai seperti: daging, rokok, garam, gula dan semua manisan, serta segala bentuk hiburan duniawi (Bdk. KHK Kan 1251). 

Puasa dan pantang menurut ajaran Gereja Katolik seperti di atas memang tidak menitik beratkan pada puasa fisik sehingga bila dibandingkan dengan puasa saudari-saudara kita beragama lain mungkin bisa dikatakan jauh lebih ringan. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi adalah puasa dan pantang menurut ajaran Katolik meskipun tidak menekankan matiraga secara fisik namun puasa dan pantang menunut setiap orang melakukan perubahan hidup dan konsisten dalam menghidupi keutamaan-keutamaan yang ingin dihayati singkat kata matiraga tidak sekedar fisik namun juga batin, pikiran, dan jiwa. 

Puasa dan pantang bagi umat Katolik sangatlah penting. Melalui puasa dan pantang, orang Katolik diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Puasa orang Katolik merupakan bagian dari latihan rohani untuk memurnikan hati, memfokuskan diri saat bermeditasi dan berdoa, puasa juga sebagai bentuk kurban persembahan diri, puasa juga dapat menjadi sarana keseimbangan diri dari segi rohani dan jasmani, sejenak melihat kembali kehidupan sebagai sebuah anugerah dengan memusatkan diri pada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam situasi doa, intim dan tersembunyi. Orang berpuasa menandakan adanya kesungguhan pada orang yang menaikkan permohonan doanya, dan memperkuat seruannya di hadapan takhta Allah. Orang yang berdoa sambil berpuasa menyatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh memohon. Bagi orang Katolik, puasa dan pantang merupakan sarana untuk lebih merendahkan diri di hadapan Allah, tidak sibuk dengan dirinya sendiri, semakin menunjukkan solidaritas kepada sesama terutama yang papa, dan tidak berbuat jahat. 

Sebenarnya masih banyak hal yang dapat digali lebih dalam ketika kita berdoa, puasa, dan pantang dalam masa Prapaskah. Namun bagi saya secara pribadi, puasa dan pantang orang Katolik merupakan sebuah bentuk latihan rohani yang sungguh didasarkan pada kebijaksanaan, bahwa fokus puasa dan pantang bukan orang lain, melainkan diri pribadi. Hal yang cukup menohok yang bagi saya, sekaligus memotivasi dan menunjukkan hal tersebut adalah khotbah Yesus saat berada di bukit:

“Apabila kamu berpuasa, Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa rngkau sedang berpuasa. Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 Jadi, selamat berproses dalam rangkaian olah rohani di dalam masa Prapaskah ini. Shaloom!