![sabda allah (kitab suci)](//images.ctfassets.net/a1uad830l19w/63G5Yqc1IJuOpDM1qWkjuh/750c277a32e94076a5470f0f71218629/bible-1866564_1920.jpg) Surat Apostolik Paus Fransiskus, Motu proprio “Aperuit illis” yang terbit pada tanggal 30 September 2019, menetapkan bahwa “Minggu Ketiga Masa Biasa akan dikhususkan untuk perayaan, pembelajaran, dan pewartaan Sabda Allah”. Maka, Paus Fransiskus melalui Minggu Sabda Allah berharap agar umat Katolik semakin mengenal, mengakui, serta menghidupi Kristus melalui Kitab Suci, Sabda-Nya. Mungkin saja selama ini kita tidak lagi mempunyai waktu untuk sekadar membuka Kitab Suci. Di hari Minggu Sabda Allah ini kita diajak untuk kembali membuka Kitab Suci kita. Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang harus kita baca. Akan tetapi, apakah cukup jika hanya sekadar membaca saja? Tentu tidak hanya sampai di situ. Kitab Suci hendaknya di hidupi; dibaca, direfleksikan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, menghadiri misa adalah jalan satu-satunya untuk mendengarkan Sabda Allah. Tetapi, menghadiri misa bukanlah satu-satunya cara agar kita dapat mendengarkan Sabda Allah. Dengan membaca Kitab Suci dan merenungkan Sabda Allah ditengah kesibukan, akan membawa diri kita mendapatkan ketenangan dan kekuatan batin. Jika kita sungguh dapat meresapi ayat-ayat Kitab Suci, kita mampu merefleksikan kehidupan atas hiruk-pikuknya dunia. Pada hari Minggu Sabda Allah ini, Gereja mengajak umat Allah untuk senantiasa dekat dengan Kitab Suci. Bukan hanya hari ini saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita terus membaca dan merenungkan Kitab Suci. Tahap selanjutnya, kita juga diajak untuk mengungkapkan permenungan Kitab Suci tersebut melalui tindakan yang konkrit. Disinilah tantangannya, seringkali dalam menghidupkan Sabda Allah kita menemukan kesulitan. Oleh sebab itu, diperlukan refleksi mendalam untuk memaknai Sabda Allah. Sehingga melalui perbuatan sederhana pun kita dapat menghidupi Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Dalam memahami Sabda Allah kita membutuhkan akal budi dan hati. Jika hanya mengandalkan akal budi saja, maka itu tidak akan cukup. Kita perlu membuka akal budi untuk mengerti dan memahami isi dari Sabda Allah. Selain itu, kita juga menerima, merefleksikan dan merenungkannya didalam hati, agar pesan-pesan dalam Kitab Suci sungguh meresap dalam diri kita. Sehingga tindakan yang kita lakukan berdasarkan atas permenungan dari Sabda Allah. Salah satu cara agar sabda Allah sungguh dapat tinggal dalam diri kita adalah dengan melakukan lectio divina (pembacaan Ilahi). Lectio divina dapat membawa kita pada dialog yang intim bersama Allah, yakni melalui doa dan membaca Kitab Suci. Tradisi ini dapat kita laksanakan untuk mencapai kesatuan yang lebih mendalam bersama Allah. Lectio divina membawa kita untuk berdoa sembari merefleksikan Sabda Allah yang tertuang di dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat lebih memahami misteri kasih Allah. Sampai di sini kita dapat mengetahui bahwa Kitab Suci sungguh bermakna bagi kehidupan kita. Kitab Suci bukan hanya sekadar buku biasa, melainkan merupakan Sabda Allah yang tertulis dan menjadi salah satu pilar kebenaran iman bagi Gereja Katolik. Kitab Suci membawa kita lebih dekat pada Allah. Kitab Suci juga membawa kita untuk lebih mengenal Allah melalui sabda-sabda-Nya. Membaca Kitab Suci dapat menguatkan iman kita. Hingga pada akhirnya kita dapat memahami dan bertindak seturut dengan apa yang telah disabdakan-Nya. Sumber Referensi APOSTOLIC LETTER ISSUED "MOTU PROPRIO" BY THE SUPREME PONTIFF FRANCIS “APERUIT ILLIS” INSTITUTING THE SUNDAY OF THE WORD OF GOD Https://www.loyolapress.com/catholic-resources/prayer/personal-prayer-life/different-ways-to-pray/lectio-divina/ Diunduh pada hari Sabtu, 16 Januari 2021, pkl. 21.05 WIB.