Salah satu sudut jalan di kota Surabaya pada waktu itu sangat buruk karena sering ditambal secara tak beraturan. Padahal, jalan itu adalah jalan yang cukup sering dilewati warga. Banyak orang mengeluhkan jalan yang buruk itu, tapi belum ditanggapi. Sampai suatu kali, Pak Presiden datang berkunjung ke sana, barulah jalan itu diperbaiki. Jika presiden datang, maka orang-orang menanti dan menyiapkan kotanya dengan baik. Apalagi, kelak Tuhan Yesus akan datang, tentu orang akan lebih antusias menanti kedatangan-Nya selama masa adven. Rupanya masa adven pun demikian, yakni masa penantian datangnya Sang Juruselamat. Banyak hal harus dipersiapkan. Minggu Adven pertama menjadi momen yang tepat untuk membuka masa penantian tersebut. Adven berasal dari akar kata Bahasa Latin, “adventus” yang berarti kedatangan. Kata ini merujuk pada kedatangan Tuhan Yesus dalam misteri inkarnasi yang amat mulia. Bayangkan saja, Allah yang Mahamulia yang tak akan pernah disentuh oleh manusia rela menjadi daging dalam rupa bayi manusia yang lemah. Segala kegemilangan konsep raja seolah menjadi luluh saat Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam menjadi manusia yang lemah. Demikian Paulus mengajarkan, “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:5-7). Lantas, apa yang membuat Allah rela berbuat demikian? Alasannya hanya satu, yakni cinta kasih-Nya yang sukar dimengerti oleh manusia. Seminggu sebelum perayaan Minggu Adven I, Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Di sana ditekankan makna penting datangnya hari akhir, yakni penghakiman akhir bagi semua orang. Orang yang percaya pada Kristus akan menerima ganjaran baik, sementara orang yang tak percaya akan menderita karena terpisah dari cinta Allah. Alasan utama cinta tersebut selalu melingkupi Yesus dalam misteri-Nya yang mulia. Minggu Adven I juga menjadi pengingat bagi orang beriman akan makna eskatologis, yakni penantian hari akhir, di mana Kristus akan datang untuk kedua kali ke dunia. Penginjil Matius menggambarkan betapa orang-orang telah menantikan datangnya Juruselamat demikian, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:3). Gereja mau menekankan makna penting penantian akan datangnya Kristus. Sikap menanti tersebut lagi-lagi dilandasi dengan rasa cinta, sebagaimana alasan Tuhan datang ke dunia adalah karena cinta. Cinta tersebut bahkan meresap sejak Tradisi Patristik sekitar abad VI. Tradisi perayaan Minggu Adven kala itu dianggap sebagai hari-hari penantian menjelang datangnya hari Natal. Gereja kala itu merayakannya dengan khas, seperti sikap berpuasa dan berdoa dengan lebih tekun. Sementara itu, kebiasaan ini juga disambut baik oleh Gereja Timur (Armenia dan Koptik). Kebiasaan ini pun akhirnya menjadi suatu yang sifatnya tetap, bahkan dimasukan dalam lingkaran tahun Liturgi Gereja Katolik. Meskipun beberapa Gereja Reformis menolaknya, namun belakangan diketahui mereka mulai mengakui dan menetapkan masa Adven sebagaimana diakui oleh Gereja Katolik. Bagaimana Kita Bersikap? Bisa dibayangkan, seorang presiden disambut dengan baik di suatu kota. Tentu saja, kita akan menanti kedatangan Tuhan yang kita cintai dengan lebih spesial. Refleksi yang layak untuk direnungkan adalah bahwa Gereja perlu membangun sikap yang mau menanti dengan penuh cinta. Menanti di sini bukan menanti dengan bersungut-sungut, tidak sabar dan meremehkan. Sebaliknya, sikap penuh cinta menjadi landasan penantian Gereja pada mempelainya, yakni Kristus. Seorang istri tentu dengan rasa cinta menanti suaminya pulang kerja. Nah, Gereja pun demikian karena menantikan Kristus yang sangat dirindukannya. Kita sebagai anggota Gereja juga bisa mengisi waktu penantian ini dengan sikap penuh cinta. Bagaimana ini bisa diwujudkan? Lakukan semua hal yang menunjukkan rasa cinta kita pada Tuhan, misalnya lebih banyak waktu berdoa dan berwawasan hati dengan Dia. Sejujurnya, banyak hal harus dipersiapkan di sini, mulai dari persiapan hati dan budi. Semoga kita semua mau menanti Tuhan Yesus dengan rasa cinta. Akhirukallam, kita persembahkan cinta yang terbaik selama menantikan Dia, Sang Cinta Sejati.