Gregorius Aldi Christyanto Mahasiswa Institutum Theologicum Ioannis Mariae Vianney [email protected] ![Santo Markus](//images.ctfassets.net/a1uad830l19w/5js0pNcEKeZzdGXLAojm6U/4d382836027f531cb350ae44e63d34d7/st__mark_the_evangelist_by_lordshadowblade-d62zolm.jpg) PENDAHULUAN Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman akan penderitaan. Entah disadari atau tidak, manusia harus menghadapi realitas penderitaan selama perjalanannya di dunia. Terkadang penderitaan menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi manusia. Bahkan seakan-akan manusia tidak dapat memiliki kekuatan dalam menghadapinya dan sekedar berpasrah dengan penderitaan yang mereka alami. Padahal dalam sebuah penderitaan, manusia diajak untuk menyadari makna salah satu bagian kehidupannya lebih mendalam. Pengalaman penderitaan orang Kristen harus diarahkan pada pengalaman personal dengan Kristus, sang Guru dan Tuhan yang sejati. Di masa pandemi ini, kita semua dihadapkan pada berbagai realitas penderitaan manusia yang tidak ada habisnya. Mulai dari kesulitan ekonomi hingga kematiaan orang-orang yang dikasihi mengajak kita untuk masuk lebih dalam mengenai makna penderitaan yang kita alami. Kita kerap kali bertanya, jika Allah adalah mahakuasa dan mencintai kita, maka seharusnya penderitaan di dunia ini tidak akan ada. Tidak jarang diantara kita ketika berada dalam situasi sulit, kita berpikir Allah hanya diam dalam setiap situasi penderitaan. Padahal sebenarnya kitalah yang kurang mendalami makna penderitaan tersebut dalam kehidupan kita. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejauh makna arti penderitaan dalam iman Kristiani. Dengan bantuan Injil Markus, kita akan melihat Allah yang tidak pernah meninggalkan umatnya dalam setiap penderitaan. Kita akan diajak menyadari bahwa realitas penderitaan adalah sebuah realitas keselamatan manusia bersama dengan penderitaan Kristus. “Kristus telah membuka penderitaanNya kepada manusia, karena Dia sendiri dalam penderitaannya yang menyelamatkan telah ikut ambil bagian dalam semua penderitaan manusia” (Yohanes Paulus II, 1993:20). YESUS KRISTUS DAN REALITAS PENDERITAAN Dalam Injil Markus 8 : 27-38, dikisahkan bahwa Yesus sedang mengajar para muridnya dan memberikan pengajaran bahwa seorang Mesias harus menanggung banyak penderitaan, disalibkan dan akan bangkit pada hari ketiga (Mrk. 8: 31). Namun disisi lain realitas penderitaan Yesus tidak dengan mudah diterima oleh para murid-Nya. Salah satu murid Yesus yakni Petrus bahkan dengan lantang menolak konsep Mesias Yesus yang berbeda dengan pemahaman Mesias tradisional. Mesias yang digambarkan Yesus adalah Mesias yang harus memenuhi panggilan mesianik melalui sengsara dan kebangkitan sedangkan pemahaman Mesias tradisional adalah mesias yang menerima kemuliaan dan kuasa untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi (Eko Riyadi, 2011:136-137). Oleh karena sikap spontan Petrus menegor Yesus (Mrk. 8:32b) tersebut, membuat Yesus marah kepada Petrus dan berkata, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Mrk. 8: 33). Petrus, sebagai seorang Yahudi memiliki kesamaan pemahaman dengan konsep Mesias tradisional Yahudi yang mana beranggapan bahwa seorang Mesias adalah seorang pemimpin penuh kuasa yang mampu membebaskan orang-orang Yahudi dari tekanan para penjajah. Jika Yesus adalah Sang Mesias berarti Yesus adalah seorang yang memiliki kuasa, maka Yesus tak layak untuk menderita apalagi mati di salib karena hal tersebut merupakan menghinaan bagi martabat keluhuran Mesias. Penderitaan dan mati secara di salib adalah suatu yang tak pantas diterima oleh Yesus sebagai Sang Mesias (Mrk. 1: 22). Namun rencana keselamatan Allah adalah rencana yang berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Dengan menjelma menjadi manusia, Ia ingin menampakkan kekuatan-Nya, dan dalam penghinaan, Ia menampakkan seluruh keagungan-Nya sebagai Mesias, Sang Juruselamat (Yohanes Paulus II, 1993:22). Keselamatan yang dijanjikan oleh Allah melalui Kristus, hanya dapat diperoleh melalui penderitaan: disalibkan, wafat dan bangkit. Yesus, sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia, dengan segala kehendak-Nya memilih untuk memikul itu semua. Ia tidak lari dan dengan segala kelemahan sebagai manusia, ia menunjukkan daya-Nya yang sungguh menyelamatkan manusia dari dosa. Di bagian berikutnya dalam kisah tersebut, ia akan menjelaskan bahwa “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mrk. 8: 34-35). Sabda Yesus ini, seringkali dihubungkan dengan konsekuensi pilihan untuk menjadi orang Kristen. Realitas penderitaan tidak dapat dihindarkan dari kehidupan orang Kristiani. Kristus, sebagai teladan setiap orang beriman, menyongsong kesengsaraan-Nya sendiri, dengan kesadaran penuh akan daya-Nya yang menyelamatkan (Yohanes Paulus II, 1993:16). Yesus menyadari bahwa keselamatan yang dijanjikan Allah kepada manusia hanya dapat diperoleh melalui penderitaan yang ia alami. Ia harus sengsara, wafat dan dibangkitkan sebagai tebusan atas dosa-dosa manusia. Setiap orang kristiani dipanggil untuk mengikuti Kristus dengan memikul salib penderitaan-Nya masing-masing. Kristus memanggul salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Salib adalah lambang penderitaan yang di alami umat manusia. Ketika orang kristiani memilih untuk mengikuti Kristus dan di baptis, sejak saat itu manusia dipanggil untuk bersama Kristus memanggul salib di dunia ini. Berkat salib Kristus, Ia telah mengangkat penderitaan manusia ke tingkat penebusan, sehingga setiap orang, dalam penderitaannya ikut serta dalam penderitaan Kristus yang menebus (Yohanes Paulus II, 1993:22). MANUSIA MENGHADAPI PENDERITAAN Sebagian besar dari manusia pada umumya tidak menghendaki adanya penderitaan dalam hidupnya, maka wajar bahwa setiap manusia akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari penderitaan. Penderitaan merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh manusia pada umumnya. Berbagai kesulitan yang dialami manusia, terkadang membawa manusia untuk berhennti pada situasi yang ada atau bisa dikatakan menyerah, padahalnya bila manusia memaknai penderitaan yang di alami, manusia diajak untuk melihat realitas penderitaan sebagai sarana untuk bertumbuh dalam iman atau makna salib dalam kehidupan. Setiap pribadi manusia selalu memiliki situasi kehidupan yang berbeda-beda, namun tidak ada satupun manusia di dunia ini yang dapat menghindar dari situasi penderitaan. Penderitaan kerap kali membawa manusia pada situasi batas, sehingga menuntut manusia untuk masuk dalam refleksi yang lebih mendalam tentang apa itu penderitaan. Penderitaan manusia, dalam iman Kristen, akan lebih bermakna jika disatukan dalam penderitaan Kristus. Kristus telah memberikan syarat kepada setiap pengikut-Nya bahwa seorang Kristen harus mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia (Mrk. 8: 34). Manusia pada umumnya, secara alamiah, berusaha untuk mendapatkan apa yang mengenakkan bagi dirinya, seperti manusia tidak perlu bekerja keras terlebih dahulu untuk mendapatkan cita-citanya bila ada cara yang lebih mudah dan praktis untuk meraih cita-citanya, manusia tidak perlu melakukan pengorbanan bagi orang lain bila mana orang lain tidak menguntungkan bagi dirinya. Sikap tersebut jelas berbeda bila manusia tersebut memaknai pengorbanan atau kerja keras sebagai pengikut Kristus, setiap orang Kristen dipanggil untuk menyangkal diri. Penyangkalan diri ini dapat kita wujudkan, ketika kita berani untuk melewati situasi yang sulit dengan kesabaran dan ketabahan. Kita tidak menyalahkan orang-orang di sekitar situasi kita dan berusaha melihat pengalaman dalam terang iman akan penderitaan Kristus. Dengan menyangkal diri, manusia diajak untuk berani mengambil penderitaan dan berani menghadapi penderitaan tersebut sebagai berkat menuju kebahagiaan sejati yakni bersatu dengan Kristus. Memikul salib penderitaan adalah bentuk kesatuan penderitaan manusia dengan penderitaan Kristus. Setiap penderitaan yang dialami manusia pastilah memiliki makna hidup dan manusia bisa belajar dari hal tersebut. Kesatuan penderitaan Kristus dan penderitaan yang dialami manusia, seharusnya disadari sebagai tindakan Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia dalam setiap penderitaan yang ia alami, layaknya seperti kisah penderitaan yang dialami Nabi Ayub. Allah selalu dengan berbagai cara mengambil bagian dalam penderitaan manusia. Manusia perlu membuka hati agar ia mampu untuk melihat campur tangan Allah dalam setiap kesulitan yang ia hadapi. Rasul Paulus sendiri telah mengatakan bahwa: “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil. 4: 13). Konsekuensi dengan menjadi pengikut Kristus adalah orang Kristen tidak dapat menghindarkan diri dari realitas penderitaan. Penderitaan yang dialami Kristus adalah jawaban dari penderitaan yang dialami manusia. Kristus rela menjadi manusia dan dapat dilihat oleh kita dan Ia rela menderita demi kita. Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia, tidak menghindari realitas penderitaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Padahal sebagai Allah, Ia dapat menghindarkan diri dari realitas penderitaan. Tetapi ia menyadari bahwa penderitaan adalah sebuah realitas kemanusiaan yang harus dihadapi oleh manusia. Sehingga sebagai manusia, ia dengan berani memilih jalan penderitaan sebagai jalan keselamatan. Jika seorang Kristiani menghindari penderitaan, ia telah menyangkal penderitaan Kristus di salib dan ia juga menyangkal karya keselamatan Allah yang hadir dalam penderitaan Kristus. Orang Kristiani dipanggil untuk menyadari bahwa penderitaan yang ada di dunia adalah bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan. Dalam penderitaan, manusia dapat menemukan dirinya sendiri, kemanusiaannya, martabatnya dan perutusannya (Yohanes Paulus II, 1993:31). Kristus adalah teladan kesetiaan dalam menanggung setiap penderitaan. Kristus telah mengubah penderitaan dalam salib menjadi kemenangan mulia atas maut dan dosa. Manusia, dengan menanggung penderitaanya, dipanggil untuk ikut serta dalam salib Kristus agar dapat memperoleh ganjaran kebahagiaan kekal abadi di surga kelak. KESIMPULAN Injil Markus adalah injil yang dianggap memberikan fokus secara lebih terhadap penderitaan Kristus sebagai manusia. Hal inilah yang menjadikan injil ini sebagai salah satu sumber iman yang dapat digunakan dalam merefleksikan penderitaan dalam kehidupan manusia. Penderitaan perlu dilihat sebagai suatu realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam penderitaan, manusia diajak untuk memahami nilai tentang penderitaan dengan meneladan ketaatan Kristus dalam memanggul salib. Manusia sebagai citra Allah, dipanggil untuk berani semakin menyerupai Kristus dalam kehidupannya. Kristus telah memilih untuk menjadi manusia dan menderita demi keselamatan manusia. Orang Kristen yang dipanggil dalam karya keselamatan tersebut juga diajak untuk berani memanggul salibnya masing-masing, sehingga ia semakin menyerupai Kristus yang telah mengorbankan diri demi keselamatan manusia. Dengan begitu, manusia dan segala penderitaannya dapat disatukan dalam kurban Kristus di salib dan kelak dapat turut dalam kebahagiaan abadi di surga. Daftar Pustaka Konferensi Waligeraja Indonesia, Alkitab Deuterokanonika, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2018. Paulus II, Yohanes, Salvifici Doloris – Penderitaan yang Menyelamatkan, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993. Riyadi, Eko, MARKUS: Engkau adalah Mesias, Yogyakarta: PT Kanisius, 2011.