Analogi “Gerak” Ketika merenungkan kata “gerak”, tiba-tiba saya teringat akan kendaraan-kendaraan bermesin, seperti motor, mobil, dsb. Kendaraan-kendaraan tersebut dapat bergerak karena ada beberapa faktor, yakni adanya bahan bakar, seperti bensin dan perangkat-perangkat yang mendukung berjalannya mesin kendaraan tersebut. Ibarat kendaraan bermesin demikian pula dengan kehidupan kita. Kita bisa “bergerak” karena salah satunya ada “energi”. Energi dapat diperoleh dari berbagai sumber. Energi gerak untuk kehidupan spiritual kita diperoleh tidak lain dan tidak bukan dari iman, harapan, dan kasih. Iman Iman adalah kebajikan ilahi yang berasal dari Allah sendiri dan bentuk kebebasan kita dalam menyerahkan seluruh diri kita kepada Allah melalui Gereja-Nya yang kudus. Pertanyaannya, iman yang seperti apa yang harus kita miliki? Apakah hanya bermodalkan percaya yang lebih mengarah pada kata “pasrah”, tanpa perbuatan? Tentunya tidak, iman yang kita miliki harus memberi kesaksian dengan berani dalam menempuh jalan salib. Dalam Surat Rasul Yakobus pun tertulis, “iman tanpa perbuatan adalah mati” (lih. Yak 2:17). Iman yang telah Ia berikan kepada kita juga sudah seharusnya kita tanggapi sebagai bentuk tanggapan manusia akan panggilan Allah. Ambil contoh Bapa Abraham dijuluki Bapa Iman. Karena apa? Karena Bapa Abraham menanggapi panggilan Allah atau dapat dikatakan ada kerja sama antara Allah dengan Bapa Abraham. Sebenarnya bisa saja Ia melakukan karya keselamatan secara sendiri, tetapi karya ini adalah karya keselamatan, maka ada subjek yang diselamatkan, yaitu manusia. Iman tersebut juga berdampingan dengan harapan dan kasih, bahkan iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya. Harapan Harapan adalah kebajikan ilahi yang berasal dari Allah dan bentuk kerinduan kita akan Kerajaan Surga, terlebih-lebih janji-janji Kristus kepada kita. Semangat harapan inilah yang mengantar kita kepada kebahagiaan cinta kasih Kristen. Dengan adanya harapan dalam hidup kita, kita masih bisa berjuang dalam menapaki peziarahan hidup ini, terlebih-lebih menantikan kelahiran-Nya yang sedang kita jalani di masa Adven ini. Kelahiran Kristus yang kita nantikan bukan hanya perayaan ritus agama belaka, tetapi lebih pada kebaruan iman kita pada-Nya. Ia lahir ke dunia untuk wafat di kayu salib. Sejarah keselamatan terpenuhi “dalam harapan melawan semua harapan” (Rm 4:18), melalui kelemahan kita. Kita mungkin berpikir bahwa Allah melihat kita hanya dari kelebihan atau keberhasilan-keberhasilan yang kita capai di dunia ini. Akan tetapi perlu disadari bahwa “Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang yang berdosa” (Mat 9:13). Santo Paulus juga mengatakan: “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor 12:7-9). Kasih Kasih adalah kebajikan dari Allah dan wujud cinta kita kepada-Nya melalui “mengasihi Allah dengan segenap akal budimu, dan mengasihi sesamamu seperti dirimu mengasihi dirimu sendiri” (Bdk. Mat 22:37). Wafat-Nya di kayu salib menunjukkan kepada kita akan kasih-Nya yang tiada kesudahannya, “seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku itu,” (Yoh 15:12). “Gerak” menuju Persekutuan Dalam Gereja Katolik, kata “gerak” sering dipakai dalam menampilkan belas kasih Allah sendiri. Ambil contoh dalam Injil Matius 15:32-39. Di sini tampak bahwa Yesuslah yang berinisiatif untuk memberi makan empat ribu orang atau dapat dikatakan bahwa Yesus menjadi inisiatif pertama dalam terjadinya kasih. Ia tergerak oleh cinta kasih-Nya untuk orang-orang yang mengikuti-Nya. Ia melihat orang-orang tersebut belum makan berhari-hari, sehingga Ia tergerak untuk mengadakan mukjizat bagi mereka. Dari Injil tersebut, kita diajak untuk mudah tergerak oleh belas kasih yang juga berasal dari Yesus sendiri, agar kita menyalurkan kasih tersebut kepada sesama kita. Saat ini, kita masih hidup dalam lingkup pandemi Covid-19. Dengan adanya pandemi ini, kita semakin diajak untuk mudah tergerak oleh belas kasih dari-Nya yang kita salurkan melalui sesama kita, seperti menerapkan protokol kesehatan dengan setia, memberikan bantuan kepada mereka yang terpapar Covid-19, dsb. *Kata “gerak” sendiri berarti suatu tindakan yang memiliki dua arah, dari kemana dan mau kemana. Kita semua lahir (berasal) dari Allah sendiri dan arah (tujuan) hidup kita adalah Allah sendiri. Inilah yang menjadi pedoman kita dalam bergerak, yang terkadang juga perlu bergerak “diam” untuk merenungkan sabda-sabda-Nya. Saat ini kita sedang menjalani masa Adven. Dalam masa adven ini, kita diajak untuk senantiasa berharap, menantikan kelahiran Sang Kasih itu sendiri, yaitu Tuhan. Sebenarnya, patut kita refleksikan dalam diri kita masing-masing, “Apakah kita mau untuk setia dalam penantian akan kelahiran-Nya? Jika mau, alasan kita mau untuk setia menantikan Dia Sang Kasih itu sendiri?” Dari situ, kita bisa merenungkan kenapa kita masih mau berjuang hidup dalam menapaki peziarahan hidup yang penuh dengan lika-liku ini dan Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini. “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13). Sudah sejak Bangsa Israel, umat manusia dicintai oleh Allah sendiri dan cinta itulah yang menggerakkan kita umat manusia untuk mencintai Allah sendiri. Atas dasar cinta ini pula, Ia menyatukan umat-umat-Nya dalam Satu Tubuh, sehingga terbangunlah suatu persekutuan. Oleh karena itu, marilah kita bergerak bersama untuk membangun persekutuan murid-murid Kristus sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan Surabaya.