Dr. Stefanus Isawadi Dosen Kitab Suci Institutum Theologicum Ioannis Mariae Vianney Surabayanum ![HIDUP ADALAH KRISTUS](//images.ctfassets.net/a1uad830l19w/4wS5ZfyWmecFyqk1TT56IO/605283645879ea9ad87a0c9c4cc6ccbb/hidup-adalah-kristus-mati-adalah-keuntungan-1-638.webp) Pengantar Transformasi hidup Paulus tidak bisa dipisahkan dari pengalaman iman yang dia alami di Damsyik. Perubahan hidup Paulus sangat drastis dari seorang pemburu pengikut Yesus kemudian menjadi rasul dan pewarta tentang Yesus Kristus. Semangatnya sungguh sangat luar biasa seperti api yang terus berkobar-kobar tidak ada hentinya. Salah satu pernyataan yang menunjukkan Paulus seorang militan sebagai pengikut Kristus yang setia adalah “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Tema hari studi kali ini mengambil sebuah tema “Bersatu dengan Kristus”. Kiranya tema tersebut dirasa sangat cocok untuk direnungkan dengan semangat Paulus. Kita diajak untuk belajar dari Paulus untuk merenungkan tema “Bersatu dengan Kristus”. Paulus adalah guru kita, seorang rasul yang tangguh, dan seorang pemberani dalam menyampaikan kebenaran akan Kristus. Paulus adalah sosok guru yang baik bagi kita, dialah teladan yang baik bagi kita dalam hal dedikasi total untuk Tuhan dan Gereja-Nya. Dalam tulisan singkat ini akan dibagi menjadi tiga bagian pokok dalam mendalami semangat hidup Paulus yang akan dikaitkan dengan tema “Bersatu dengan Kristus”. Bagian pertama, kita akan melihat sekilas peristiwa mendasar tentang perubahan hidup Paulus yang mana menjadi titik balik dari hidup Paulus dari seorang militan Yahudi menjadi rasul Kristus yang tangguh. Bagian kedua, kita akan mendalami semangat Paulus dengan merungkan salah satu pernyataan Paulus yakni “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” dalam surat filipi. Dan yang ketiga, menutupnya dengan refleksi atas semangat Paulus untuk kehidupan Gereja “Bersatu dengan Kristus”. Peristiwa Damsyik Latar belakang seorang Paulus sebelum bertobat adalah seorang yang sangat memegang kuat tradisi ortodok Taurat. Peristiwa bangkitan dan kenaikkan Yesus ke surga yang diyakini oleh para pengikut Kristus memunculkan sebuah gerakan baru dalam menerapkan hukum Taurat. Hal tersebut membuat Paulus geram dan dipandang membahayakan bagi identitas Yahudi dan ortodoksi dari para leluhur, maka dari itu Saulus sangat intoleran dengan para pengikut Kristus bahkan secara terang-terangan ia mengejar dan menganiaya pengikut Kristus. Dari peristiwa tersebut sebenarnya karya Allah terjadi dalam hidup Paulus. Perjalanannya ke Damsyik merupakan sebuah titik balik hidupnya. Dalam Kisah Para Rasul kisah pertobatan Saulus digambarkan begitu hidup. Peristiwa iman yang dialami Saulus pada waktu itu bisa dikatakan secara tiba-tiba, Saulus melihat cahaya yang membuatnya buta sementara dan di situ Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Saulus. Dari peristiwa tersebut ia secara yakin menyatakan bahwa Yesus yang bangkit dari mati dan dimuliakan sebagai Tuhan merupakan sebuah kebenaran iman. Kejadian di Damsyik menegaskan bahwa Paulus diubah, bukan oleh sebuah pemikiran, melainkan oleh sebuah peristiwa. Paulus tidak bisa meragukan lagi kehadiran Yesus. Peristiwa itu begitu kuatnya, perjumpaan itu. Ini merombak hidup Paulus secara radikal. Dalam beberapa tulisan memang tidak dikisahkan secara terperinci pertobatan Saulus seperti apa sehingga ia secara radikal menjadi pengikut dan pewarta Yesus secara militan. Namun titik balik hidup Saulus, ia akhirnya beberapa kali berbicara tentang peristiwa penting yang menegaskan bahwa dirinya adalah saksi kebangkitan Kristus, sebuah pewahyuan yang dia terima sendiri dari Yesus Kristus bersamaan dengan tugas perutusannya “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya” (1Kor 15:8). Bukan “Pertobatan” Biasa Pertobatan dari Paulus memiliki makna tersendiri dalam kehidupannya dan bagi kehidupan orang Kristiani saat ini. Paulus tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa peristiwa di Damsyik merupakan sebuah pertobatan hidupnya. Peristiwa di Damsyik bagi Paulus bukan merupakan sebuah peristiwa penyesalan dalam hidupnya karena pernah menganiaya pengikut Kristus, namun Paulus menemukan sebuah penemuan jalan hidup baru. Paulus tidak berpaling ke Allah yang lain; dia terus menyembah Allah Israel. Dia juga meneruskan kepercayaannya tentang pemilihan Israel (Rm 9:1-4), dan dia juga tetap percaya bahwa KS orang Yahudi berisi pewahyuan Allah. Pertobatan Paulus tidak bisa diartikan sebagai pertobatan dalam arti “berpaling dari” melainkan ‘berpaling kepada” artinya, Paulus berpaling kepada pewahyuan baru Allah Israel, sebagaimana dikatakannya: “Setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati mereka berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil daripadanya” (2 Kor 3:15-16). Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa perubahan seluruh arah hidup Paulus tidak terjadi berkat sebuah perkembangan intelektual atau moral. Peristiwa pertobatan Paulus merupakan sebuah peristiwa yang berasal dari luar. Ini terjadi berkat perjumpaan dengan Kristus yang tersalib, yang selama ini dibencinya. Ini bukan sebuah pertobatan biasa, sebuah kesadaran baru, melainkan lebih berupa sebuah kematian dan kebangkitan bagi Paulus sendiri. Hanya perjumpaan yang dahsyat dengan Kristus yang bangkitlah yang menjadi kunci untuk memahami apa yang terjadi. Berkat perjumpaan itu, terjadi pembaruan sejati yang mengubah seluruh standar hidup Paulus. Lebih lanjut Paus mengatakan bahwa perjumpaan dengan Kristus, Sang Terang Sejati, membuat Paulus terbuka pada banyak hal. Ia tidak melepaskan semua yang baik dan benar dalam hidupnya, yang bernilai dari nenek moyangnya. Ia menjadi pribadi yang lebih mengerti mengenai kebijaksanaan, kebenaran, hukum dan para nabi dengan cara yang baru bahkan pada akhirnya ia mampu berdialog dengan siapa saja dengan baik dan membuat dirinya menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain. Paulus menganggap penampakan kebangkitan itu menjadi peneguh statusnya sebagai rasul (1 Kor 9:1; 15:8). Ia memiliki status yang sama dengan para rasul lainnya, namun dia diberi tugas khusus yakni mewartakan pertobatan bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi (Gal 1:16). Ia pun akhirnya terdorong untuk mewartakan Kabar Gembira ke Filipi dan menularkan semangat kepada mereka untuk melakukan hal yang sama. Latar Belakang Surat Filipi Ciri khas surat Paulus kepada Jemaat di Filipi adalah nada suratnya bersifat personal dan penuh kasih. Paulus seakan-akan menulis surat ini dengan hati di tangannya, tetapi tetap dengan kedalaman teologi seperti surat-surat lainnya. Surat ini mencerminkan karakter personal Paulus, pencerahan rohaninya, kesopanannya yang halus, penyerahan dirinya yang total untuk menjadi pelayan Sang Guru. Baik jemaat yang dilayani Paulus dan Paulus sendiri mengalami kondisi yang sama yakni sama-sama menjadi orang tahanan dan menunggu hasil persidangan. Di sini Paulus bersikap menjadi seorang yang meredakan kekhawatiran para jemaat, meluruskan kesalahpahaman mereka, membagikan sesuatu yang meneguhkan, sesuatu yang mengisi hatinya manakala dia merenungkan situasinya sendiri. Meskipun Paulus dalam keadaan sangat memperhatinkan di penjara, Paulus sama sekali tidak menfokuskan tulisannya tentang keadaan yang ia alami namun tulisannya lebih menonjolkan tentang kabar kemajuan Injil. Perhatiannya yang paling mendesak adalah menegaskan bahwa apa yang telah menimpanya itu baik untuk pewartaan Injil. Pemenjaraan memang sesuatu halangan (proskope), tetapi itu malah menjadi suatu kemajuan (prokope). Paulus dalam situasi di penjara, ia senantiasa menunjukkan kemajuan Injil antara lain ia menegaskan bahwa seluruh istana dan semua orang lain tahu bahwa dia dipenjarakan karena Kristus. Dia dibelenggo oleh kaisar karena dia ada dalam Kristus. Indikasi kemajuan injil juga ditunjukan dalam saudara-saudari seimannya sendiri. Ketika jemaat mendengar bahwa Paulus dengan gagah berani mewartakan Kristus kepada orang-orang di lingkup istana, hal itu menyemangati mereka untuk melakukan hal yang sama tanpa takut kepada mereka yang juga mencoba membungkam mereka. Di sisi lain Paulus juga memberitakan kabar buruk selain kabar baik dari saudara-saudari seiman. Beberapa orang mewartakan Kristus karena dengki dan persaingan (1:15). Yang lain mewartakan Kristus demi kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas (1:17). Bagi Paulus, orang-orang ini sebenarnya bukan musuh. Mereka bukan serigala berbulu domba. Mereka bukan jemaat palsu. Mereka adalah saudara-saudari seiman. Yang diwartakan pun sama juga, yakni kabar gembira Yesus Kristus. Yang membedakan hanyalah cara bersikap. Di tengah situasi yang tidak ideal semacam ini, Paulus masih sempat berpikir lebih jauh dan melihat nilai positifnya. Di sini, Paulus masih bisa bergembira karena Kristus diwartakan. Sumber Sukacita Sejati (Flp 1:21) Setelah menceritakan keadaan dan lingkungannya yang aktual, Paulus kemudian mengisahkan harapannya di masa depan. Paulus mengatakan bahwa ia akan tetap bersukacita. Dalam hal ini, sukacita Paulus bukanlah sukacita yang membabi-buta. Sukacita Paulus adalah sukacita yang alkitabiah artinya menghantarkannya pada sebuah keselamatan. Keselamatan macam apa yang sedang dinantikan Paulus? Para penafsir pada umumnya memiliki dua pendapat: keselamatan dari hukuman penjara atau keselamatan dalam kehidupan kekal. Ada pula yang menduga bahwa Paulus sedang memikirkan keduanya. Jadi ini bukan hanya “pelepasan” dari situasi sekarang, melainkan juga terutama pembenarannya dalam sidang surgawi, bagian dari “keselamatan” eskatologisnya. Alasan Paulus bersukacita meskipun dalam penderitaan karena sukacita adalah sesuatu yang sangat dirindukan dan diharapkan. Dia mengatakan apa yang “sangat kurindukan dan kuharapkan,” yaitu dalam segala hal dia tidak beroleh malu (1:20), baik di hadapan pengadilan orang yang memusuhinya sekarang ini, maupun kelak di hadapan pengadilan surgawi. Berkaitan dengan ini, Paulus sangat berharap bahwa “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku” (1:20). “Tubuh” di sini berarti keseluruhan diri seseorang, bukan hanya dengan daging atau badan. Idenya adalah bahwa Kristuslah yang semakin besar berkat apa yang menimpa Paulus. Harapan dan keyakinan Paulus adalah bahwa sebagaimana di masa lalu, sekarang dan di masa depan hidup dan/atau kematiannya akan memuliakan Allah. Pernyataan akan kerinduan dan harapan Paulus sangat kuat dalam kata-katanya yakni “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (1:21). Hal tersebut juga menjadi pegangan hidupnya. Hidup – Kristus! Tiadanya sebuah kata kerja mungkin bisa diisi dengan aneka cara: hidup adalah Kristus; hidup berarti Kristus; hidup bergantung pada Kristus; hidup memuliakan Kristus. Dengan kata lain, dasar, pusat, tujuan, arah, daya, dan makna hidup Paulus adalah Kristus. Dengan kata lain, hidup dalam Kristus ini tidak melulu hidup batin atau hidup di dunia yang akan datang, tetapi juga hidup sehari-hari. Pernyataan “hidup adalah Kristus” menyatakan makna dan tujuan hidup Paulus. Hal ini memang belum terpenuhi. Karenanya, hidup bukanlah posisi yang statis, melainkan proses dinamis, proses “menjadi dan bertumbuh.” Bagi Paulus, tujuan hidupnya mendorongnya maju dan melayani Kristus setiap hari. Ketika tujuan hidupnya adalah Kristus, hidup berarti mengikuti jalan-jalan Kristus, jalan pemberian diri, jalan kerendahan hati, jalan pengurbanan. Jalan hidupnya tidak lari dari penderitaan. Selanjutnya “mati adalah keuntungan”. Paulus bukanlah orang pertamanya yang menyatakan pernyataan tersebut. Banyak filsof Yunani juga mengatakan salah satunya adalah Sophocles yang menyatakan serupa dengan Paulus “kematian adalah keuntungan sebab ini adalah akhir dari hidup yang penuh dengan kebencian atau kematian adalah keuntungan bagi mereka yang menganggap hidup ini sebagai sebuah beban”. Tentu saja ada perbedaan besar antara Paulus dan penulis-penulis kuno itu. Ada tiga kemungkinan utama tentang apa yang dianggap Paulus sebagai keuntungan. Pertama, mati adalah keuntungan karena dengan begitu dia “memperoleh Kristus” (bdk. 3:8). Dia “ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus,” yang dianggapnya jauh lebih baik (bdk. 1:23). Kedua, mati adalah keuntungan karena menjadi kesempatan bagi Kristus untuk lebih dimuliakan dalam tubuhnya, lewat pewartaan Kabar Gembira. Karena tujuan hidup adalah Kristus, kematian adalah keuntungan jika menjadi kesaksian akan Kristus. Yang ketiga adalah gabungan kedua hal tadi. “Keuntungan itu bukan hanya ganjaran surgawi di hadapan Sang Guru (ay. 23), melainkan juga pewartaan kabar gembira dalam bentuk kesaksian.” Sampai di sini tampak betapa perjumpaan dengan Kristus telah menjadi daya penggerak Paulus. Hidupnya benar-benar dipenuhi semangat untuk mewartakan Kristus. Kristuslah pusat seluruh hidupnya sekarang. Risiko apa pun akan dia tempuh asalkan Kristus semakin dimuliakan lewat hidupnya. Kalaupun dia tetap hidup di dunia ini, itu akan digunakannya untuk “bekerja memberi buah” (1:22). Hal ini mengandaikan kerja keras. Penutup Pengalaman Paulus ini mengingatkan kita bahwa kekristenan bukanlah sebuah filsafat atau moralitas baru. Demikian pula, menjadi seorang kristiani bukanlah hasil dari sebuah pilihan etis atau ide yang tinggi, melainkan perjumpaan dengan sebuah peristiwa, seorang pribadi, yang memberi hidup itu horizon baru dan arah yang tepat. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit membuat Paulus sanggup berkata “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Ungkapan ini menyatakan makna baru bagi hidup dan eksistensi manusiawi, yang terdapat dalam persekutuan dengan Yesus Kristus yang hidup; bukan hanya dengan seorang sosok historis, seorang guru kebijaksanaan, seorang pemimpin agama, tetapi dengan seseorang yang di dalam Dia Allah tinggal. Paulus telah memberi teladan, juga kepada pembaca zaman sekarang, tentang apa artinya tinggal dalam Kristus. Ini akan memberikan sudut pandang yang jernih bagi umat beriman, termasuk juga para gembala. Manakala Kristus menjadi pedoman dan tujuan segala pelayanan, maka hal ini akan membuahkan hasil yang baik. Dan saat Kristus yang menjadi penggeraknya, orang akan sepenuh hati mewujudkannya dalam kehidupan nyata, tanpa kenal lelah.