Gereja pada hakikatnya adalah kesatuan umat Allah, yang dipanggil oleh-Nya menuju kepada keselamatan sejati, yaitu melalui salib Kristus. Kita sebagai kesatuan umat Allah tersebut memiliki harkat dan martabat yang sama oleh karena rahmat pembaptisan. Secara bersama-sama, kita adalah tubuh Gereja dan Kristus sebagai kepala Gereja sendiri (Bdk. KGK, 748-757). Kesatuan tersebut didasari oleh karena cinta kasih yang mesra antara Kristus dengan tubuh mistik-Nya, yaitu kita sendiri sebagai suatu persekutuan. Kita adalah wujud dari kehadiran Allah yang secara nyata tampak di dunia ini dalam cinta kasih persaudaraan kita dengan yang lain sebagai persekutuan Gereja. Cinta kasih tersebut menggerakkan kita untuk terus-menerus mengusahakan diri mencapai persaudaraan yang kuat di tengah berbagai macam cobaan yang ada di dunia ini, yang dapat merongrong persaudaraan kita, bahkan dapat meruntuhkan persaudaraan kita. Oleh karena itu, kekuatan cinta hendaknya terus-menerus kita kuatkan dan tumbuhkan di dalam persekutuan kita sebagai umat Allah yang hidup di tengah dunia ini. Apa Arti dari Cinta Kasih? Cinta kasih adalah penyerahan diri secara bebas (Bdk. KGK, 2346). Setiap manusia yang terdorong oleh hati yang penuh cinta akan terdorong untuk mengabdikan diri secara penuh. Cinta kasih secara langsung mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang dan secara nyata tampak melalui tindakan-tindakan seseorang seperti seorang musisi yang mengabdikan dirinya pada suatu karya musik yang besar, seperti orang tua yang dengan tulus hati mendidik, membesarkan dan rela berkorban demi anaknya, dan di dalam persahabatan pun tumbuh akibat adanya cinta kasih antar sesama. Allah Wujud Cinta Kasih Allah telah menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah kasih. Kasih tersebut diwujudkan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, tempat Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi para sahabat-Nya. Ia telah membuktikan perkataan-Nya sendiri: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:17). Iman kita berpegang teguh pada janji “Allah adalah kasih”, meskipun pengalaman akan penderitaan seringkali membuat kita mempertanyakan apakah Allah sungguh mengasihi kita. “Kasih itu berasal dari Allah; dn setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1Yoh 4:7). Cinta Kasih Allah Hadir Dalam Sesama Pernahkah kita sadari bahwa Allah benar-benar mengasihi kita? Sehingga kita bertanya-tanya, apakah Allah sungguh mengasihi kita ketika mengalami pengalaman penderitaan. Pernahkah kita menyadari bahwa uluran tangan orang lain merupakan bentuk wujud kasih Allah? Allah akan tetap dan selalu mengasihi kita, di mana Ia selalu memandang kita dengan penuh cinta setiap saat, Ia senantiasa menjaga hidup kita, dan Ia selalu ada untuk kita di tengah kemelut dunia ini. Melalui orang-orang yang ada di sekitar kita, Allah hadir dan menggerakkan kita untuk saling mengasihi satu sama lain. Seluruh cinta kasih manusia kepada manusia yang lain merupakan gambaran cinta kasih Ilahi. Cinta kasih adalah bentuk yang paling dalam dari Allah sendiri. Cinta kasih Ilahi yang berlimpah tersebut melibatkan kita untuk hidup dalam cinta kasih-Nya. Kita yang secitra dengan-Nya dirancang untuk saling berhubungan, bertukaran, berbagi, dan mengasihi satu sama lain. Kasih Allah menggerakkan kita untuk bertanggung jawab satu sama lain dan hal tersebut terwujud dalam persaudaraan sejati kita sebagai persekutuan umat Allah (Gereja). Gereja sebagai tubuh mistik Kristus secara nyata tampak dalam kasih Allah yang hadir dalam segala perbuatan kasih kita kepada sesama manusia. Kristus sendiri menghendaki kasih dari diri kita masing-masing seperti yang Ia lakukan terhadap Gereja, di mana Ia mengikatkan diri-Nya dengan Gereja dan memberikan hidup-Nya bagi Gereja (Bdk. KGK, 796). Kasih tersebut mengikatkan kita dengan Kristus dan kita hidup di dalam-Nya sehingga kita pun diutus menjadi kasih Allah yang hadir dalam persaudaraan sejati yang tidak pernah terputuskan, karena di dalam Kristus, kita menjadi satu tubuh dan saling menjaga serta saling melengkapi satu sama lain. Jika kita semakin besar dan semakin dalam mencintai sesama, maka cinta kasih Allah terjelma dalam hidup kita dan kita semakin diarahkan kepada kesatuan cinta bersama-Nya. Pada akhirnya, kasih adalah dasar utama dan penggerak utama untuk semua orang kristiani. Karena melalui kasih, kita saling memiliki dan saling tergantung satu sama lain sehingga kita sebagai tubuh mistik Kristus didorong untuk saling bersaudara serta menghidupi perintah-Nya: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22: 39).