Cinta Kasih sebagai Kebajikan Ilahi Gereja Katolik berpandangan bahwa cinta kasih merupakan suatu kebajikan ilahi. Kebajikan ilahi sendiri merupakan akar dari kebajikan manusiawi. Ini berarti bahwa kebajikan ilahi adalah sesuatu yang memungkinkan kemampuan manusiawi untuk berpartisipasi dalam kodrat yang ilahi. Hal ini hendak menegaskan bahwa kebajikan ilahi sangat berhubungan erat dengan Allah. Karena berkaitan langsung dengan Allah, maka kebajikan ini memungkinkan manusia untuk mengalami relasi yang secara langsung dengan Tritunggal Mahakudus.Kebajikan ilahi menjadi sesuatu yang membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral. Manusia bisa memiliki kebajikan ilahi ini dari Allah sendiri yang mencurahkannya ke dalam diri manusia, terutama dalam jiwanya. Dengan kebajikan ini manusia dimampukan untuk bertindak sebagai anak-anak Allah, sehingga dapat mengalami hidup abadi. Kebajikan ilahi ini adalah bukti kehadiran Roh Kudus dalam diri manusia. Ada tiga buah kebajikan ilahi antara lain: iman, harapan, dan kasih. Cinta kasih adalah salah satu dari tiga kebajikan ilahi. Santo Paulus menegaskan pula bahwa yang terbesar di antara ketiga kebajikan tersebut adalah kasih. Cinta kasih mendorong manusia untuk semakin mencintai Allah secara lebih mendalam dan di atas segala-galanya. Namun demikian, cinta kasih tidak berhenti pada Allah saja, melainkan juga pada mencintai sesama. Ini merupakan suatu perintah baru yang diwartakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ini senada dengan sabda-Nya, “Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Cinta Kasih Yesus Kristus bagi Manusia Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, sebagaimana yang diimani oleh Gereja. Peristiwa Allah yang menjadi manusia ini tentu memiliki tujuan yang baik bagi manusia. Tujuan itu tidak lain adalah demi mendamaikan relasi manusia dengan Allah, sehingga bisa membawa keselamatan bagi manusia. Lebih lanjut, tindakan Allah Putra yang menjadi manusia juga merupakan upaya-Nya agar manusia semakin mengenal cinta kasih Allah. Cinta kasih Yesus adalah sungguh-sungguh total bagi umat manusia. Ketotalan itu diwujudkan dengan pengorbanan-Nya yang nyata dan sehabis-habisnya di kayu salib. Melalui peristiwa salib, Yesus menunjukkan suatu keputusan cinta yang penuh kebaikan dan hal itu mendahului setiap jasa manusia. Dengan kata lain, ini adalah inisiatif Allah yang penuh cinta. Inisiatif tersebut tentu saja disebabkan karena cinta-Nya yang total bagi manusia ciptaan-Nya. Cinta kasih Yesus ini juga tidak mengecualikan siapapun. Artinya ialah bahwa cinta-Nya itu tidak tertutup pada satu atau dua pihak saja, melainkan terbuka untuk seluruh umat manusia. Keterbukaan inilah yang membuat cinta kasih Yesus dapat dirasakan oleh semua orang. Karena itu, Gereja meyakini bahwa Tuhan Yesus wafat untuk semua manusia tanpa terkecuali. Tindakan Tuhan Yesus Kristus di sini dapat menjadi teladan bagi manusia, terutama dalam hal mencintai. Cinta kasih Yesus itu diwujudkan dalam kesediaan-Nya untuk menjadi manusia secara total dan terbuka. Manusia dengan demikian juga diajak untuk memiliki cinta kasih yang total seperti tindakan Yesus yang menjadi sungguh manusia dan menyerahkan diri-Nya dalam peristiwa salib. Selain itu, manusia juga diajak untuk memiliki cinta yang terbuka kepada siapapun, bahkan terhadap orang yang ia anggap sebagai “musuh” sekalipun; “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Dengan demikian, setiap orang perlu mengupayakan kebajikan cinta kasih seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Tujuannya agar cinta kasih Yesus yang total dan terbuka itu tidak berhenti pada satu pribadi saja, melainkan agar dapat menyebar ke setiap pribadi manusia, sehingga terbentuklah suatu persahabatan dan persekutuan.