Natal 2021 sudah terasa dekat dan masa Adven sudah akan berakhir. Kita melawati masa Adven tahun ini, yang sepenuhnya belum pulih dari suasana pandemi Covid-19, namun kita patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk dapat merayakan masa Adven bersama di Paroki maupun di Lingkungan masing-masing. Hal yang mungkin cukup menarik perhatian saat kita merayakan perayaan liturgi di masa Adven adalah penggunaan warna liturgi yang beragam, ada yang warna ungu dan ada warna merah muda. Disadari atau tidak, warna ungu akan nampak dominan dipakai baik dalam dekorasi maupun busana liturgis terutama saat perayaan liturgi di masa pra-Paskah dan Adven. Mungkin, penggunaan warna tertentu di dalam sebuah perayaan liturgi ini akan menimbulkan tanya bagi sebagian umat: “Mengapa warna ungu menjadi warna liturgi di masa pra-Paskah dan Adven? Apa maknanya?” Seperti yang telah kita ketahui bahwa perayaan liturgi di gereja Katolik merupakan sebuah perayaan iman yang khas, kaya akan simbol sekaligus makna yang sangat mendalam. Hal itu dapat kita lihat, salah satunya dalam penggunaan warna tertentu ketika merayakan perayaan liturgi tertentu. Warna yang dipilih dan ditentukan gereja sebagai warna liturgi bukanlah hanya sekadar pemanis atau pendukung dekorasi semata, karena di balik penggunaan warna-warna tersebut terkandung sebuah pesan yang mendorong penghayatan di dalam perayaan liturgi itu sendiri. Gereja Katolik awalnya hanya menggunakan warna putih sebagai warna liturgi. Tetapi konsep mengenai pemakaian warna liturgi ini kemudian berkembang dan diberi pemaknaan yang lebih mendalam. Misalnya saja Paus Pius VI melalui Ordo Missae di tahun 1969 menetapkan lima warna dasar (Putih, Merah, Hijau, Ungu dan Hitam) sebagai warna resmi yang dipakai dalam perayaan liturgi Gereja Katolik. Kemudian di dalam PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) hingga terjadinya Konsili Vatikan II; Gereja menyatakan warna putih, hijau, merah dan hitam sebagai warna pokok liturgis. Tetapi, pemaknaan mengenai warna liturgi ini masih berkembang mengikuti peristiwa perayaan liturgi gereja katolik. Kini, Gereja Katolik telah memilih dan menetapkan enam warna pokok yang dapat digunakan dalam perayaan liturgi, yaitu: Putih/Emas, Hijau, Merah, Hitam, Ungu serta Merah Muda. Enam warna liturgi yang telah ditetapkan Gereja, tentu memiliki makna tersendiri. Tetapi di dalam kesempatan ini, kita akan berkenalan sekaligus melihat makna dari salah satu warna liturgi yakni: Warna Ungu. Warna ini pasti dipakai saat perayaan liturgi di masa Adven (empat minggu menjelang Hari Raya Natal) dan Pra-paskah (empat puluh hari sebelum Hari Raya Paskah). Kedua masa ini merupakan waktu di mana gereja mengajak umatnya untuk lebih mawas diri di dalam keheningan dan ketenangan. Secara khusus masa Pra-paskah kental dengan suasana doa, puasa, pantang dan aktivitas yang terkait dengan tindakan amal-kasih. Dalam masa ini, umat Katolik diajak menyadari sekaligus menyesali sungguh dosa-dosa yang telah dilakukan. Warna ungu di masa Pra-paskah menjadi lambang pertobatan dan penitensi. Bahkan dalam satu minggu menjelang Hari Paskah, warna ungu merangkum dan melambangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus. Pakaian liturgi imam yang dipakai pada pekan suci ini dihiasi dengan simbol salib dan mahkota duri. Masa Adven merupakan masa penantian, maka dari itu, umat Katolik diajak untuk lebih dalam memaknai masa penantian pemenuhan janji Allah yang akan menghadirkan Sang Juru Selamat ke dunia. Di dalam masa Adven, menggunakan warna ungu sebagai warna liturgi, jelas di sini warna ungu dalam masa Adven memiliki perberdaan makna dengan warna ungu pada masa Pra-paskah. Warna ungu dalam masa Adven menjadi sebuah simbol fajar yang mendahului matahari terbit; yang dimaknai sebagai penantian kelahiran Sang Juru Selamat yang menghapus dosa-dosa manusia. Selain warna liturgi ungu, di masa Adven juga menggunakan warna liturgi merah muda pada waktu Minggu Adven III (Gaudette). Warna merah muda melambangkan bahwa manusia telah memasuki masa pertengahan dalam masa penantian akan pengharapan kebahagiaan untuk menyongsong Mesias yang akan segera tiba untuk memenuhi janji Allah sendiri. Simbol warna ungu dalam liturgi juga masih memiliki makna lain seperti kerendahan hati yang diambil dari gambaran bunga violet yang kuntumnya akan tertunduk ke tanah. Selain itu, warna ini merupakan warna yang mewah karena pada zaman dahulu, warna ini merupakan warna yang dipakai oleh raja dan para penyambutnya. Singkat kata, bagi Gereja, kekayaan makna simbol dari warna ungu mendorong umat semakin dalam merungkan imannya, terutama pada masa Adven umat diajak benar-benar mempersiapkan diri dengan penyesalan dan pertobatan untuk menyambut kedatangan Juru Selamat manusia yakni Yesus Kristus.