Mari kita sejenak berpikir matematis. Yohanes Pembaptis adalah putera Elisabet, saudari Maria, ibu Yesus. Maka, dapat dikatakan bahwa Yohanes adalah saudara sepupu dari Yesus. Usia Yohanes tentu jauh lebih tua kira-kira enam bulan dibandingkan Yesus. Mengapa demikian? Saat Maria menerima kunjungan dari malaikat Tuhan, ia tahu bahwa dirinya akan mengandung. Saat itu, malaikat berkata padanya, “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu” (Luk. 1:36). Rupanya, Yohanes lahir sekitar enam bulan lebih dulu dari Yesus. Dalam hidup orang Ibrani, kebiasaan penghormatan pada orang yang lebih tua boleh dikatakan cukup terjaga. Artinya, orang yang lebih muda masih menjaga “tata krama” dalam bersikap dengan orang yang lebih tua. Akan tetapi, hal tersebut agaknya tidak berlaku bagi Yohanes yang sangat menghormati Yesus. Lantas, semangat apa yang bisa kita timba dari sosok Yohanes Pembaptis? Memakai pakaian dari bulu unta – ikat pinggang dari kulit, memakan belalang dan madu hutan adalah hal-hal yang melekat pada diri Yohanes Pembaptis. Ditengarai dengan cermat bahwa ia berasal dari kelompok Qumran, yakni sebuah komunitas kecil yang menghayati iman Yahudi dan melakukan askese dengan sangat ketat. Biasanya, kelompok tersebut tinggal di sekitar padang gurun untuk mendukung askesenya (bdk. Luk. 1:80). Kehidupan sehari-harinya juga keras dan penuh seruan kenabian. Bahkan, Yohanes berani mencela Herodes Antipas (bdk. Mrk. 6:18) yang melakukan perkawinan tidak sah karena merebut pasangan orang lain. Itu sebabnya, Yohanes dipenjara dan dihukum mati di sana. Lebih dari itu, Yohanes adalah sosok yang sangat tegas dalam mewartakan kebenaran mesianis. Tujuannya adalah agar orang-orang siap menyambut hadirnya Yesus, Sang Mesias Sejati. Masa Adven dan Yohanes Masa Adven membuat Gereja menghadapi beberapa tokoh besar dalam Kitab Suci, seperti Yesaya, Yohanes Pembaptis, Perawan Maria dan Bapa Yosef. Di Minggu Adven Kedua, Gereja boleh merefleksikan sosok Yohanes Pembaptis yang selalu menyiapkan jalan untuk kedatangan Yesus. “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya" (Mrk. 1:3). Yohanes tidak mempedulikan dirinya dan tidak memegahkan dirinya. Meski sebagai tokoh yang cukup terkenal kala itu, namun itu bukan tujuan ia hidup. Sebaliknya, tujuan ia hidup adalah mewartakan kebenaran dan menyiapkan hati orang-orang Yahudi agar siap menerima Yesus, Sang Mesias. Bahkan, Yohanes selalu ingin menjadi semakin kecil, sementara Yesus harus semakin besar. Yohanes memang biasa membaptis, tapi ia merasa tidak pantas melakukan itu pada Yesus, yang ia nanti-nantikan. Kehadiran Yesus memang akan menyedot perhatian orang-orang karena Ia menjadi lebih terkenal darinya. Namun, ia tidak merasa cemas, melainkan ia justru bahagia melihat “Sahabatnya”. Bacaan-bacaan selama masa Adven pun mengundang Gereja untuk merenungkan sosok Yohanes Pembaptis yang rendah hati ini. Sebagai masa penantian, masa Adven mengajarkan kepada kita untuk menanti Tuhan dengan sikap rendah hati. Semangat rendah hati menjadi nafas bagi kita dalam menanti Tuhan karena artinya kita memprioritaskan Tuhan lebih dari diri sendiri. Rendah hati juga berarti meredam arogansi hati yang selalu ingin menang. Lantas, bagaimana kita bersikap? Sikap rendah hati dalam masa Adven bisa diwujudkan dalam doa-doa pribadi, yang pertama-tama mendahulukan kehendak Tuhan, alih-alih kehendak diri. Di sini, kita bisa bercermin pada sikap batin kita selama ini. Doa yang memaksa kehendak Tuhan, doa yang egoistis dan doa yang mengabaikan kepentingan orang lain adalah beberapa sikap arogansi diri. Sikap rendah hati juga ditantang dalam hidup sehari-hari, seperti di kehidupan media sosial. Dewasa ini, banyak orang mendewakan “Keakuan diri” dalam ambisi popularitas di media sosial. Beraneka cara dilakukan demi mencapai popularitas. Akan tetapi, masa Adven mengajak kita untuk bercermin dari sosok Yohanes Pembaptis yang rendah hati, yang menganggap Yesus adalah segala-galanya bagi dirinya. Kita diundang untuk bersikap rendah hati: mementingkan kehendak Tuhan di atas segala-galanya. Akhirnya, masa Adven ini membuat kita semakin rendah hati menanti kehadiran Yesus, teladan kerendahan hati yang sejati, yang rela menjadi manusia lemah untuk kita. Semoga kita selalu menjadikan Tuhan Yesus segala-galanya di hidup kita.